Senin, 26 Maret 2018

Peraturan Unfaedah

Foto by Google

Saya pernah dapat tawaran kerja di suatu daerah. Saya pikir karena kantor itu satu kepemilikan dengan sebuah kampus yang bernama ala-ala islami gitu tentu ngga akan mempermasalahkan sebuah hijab. Apalagi pas datang ke sana memang banyak karyawan muslimah yang pake jilbab.

Interview dengan HRD, Kepala Bagian, dan test ini-itu  berjalan dengan lancar. Saya dinyatakan lulus dan bisa mulai bekerja di sana. Saya juga dapat kenalan seorang ibuk muda yang sama-sama melamar di sana dan diterima. Dia bilang siy sama saya kalau dia disuruh lepas hijab sama bagian HRD. Sempat binun, kok saya ngga disuruh yaa. Tapi yoo wiss lah, mungkin karena beda bagian jadi beda peraturan.

Tibalah hari pertama saya bekerja di sana. Saya pakai seragam yang diberikan lengkap dengan hijab yang menutup kepala. Dan apa yang terjadi permisah? Orang HRD-nya syok melihat penampilan saya. Trus dia nanyak kenapa masih pakai kerudung. Saya bilang ngga ada disuruh harus lepas kerudung. Sepertinya dia kelupaan ngomong hal itu ke saya, karena saya masuk bersamaan dengan teman saya yang ibuk muda itu. Kemudian dia membujuk saya untuk lepas kerudung karena itu adalah peraturan baru dari kantor tersebut.

Saya pergi ke toilet dengan lunglai untuk membuka kerudung. Pas mandang bayangan sendiri  di balik cermin kok jadi malu dan  mulailah monolog diri, “Jadii, hanya sampe sini ajah perjuanganmu mempertahankan hijab? Masa harus korbanin kerudung hanya demi uang yang ngga sampe puljut-perbul (puluhan juta perbulan). Meskipun masih belom bener pakai kerudungnya, tapi kalau harus dibuka hanya demi pekerjaan yang (mohon maaf) ngga ada bonafidny, koo yaa murahan sekali dirimu, Nuree.” Padahal juga banyak karyawan lama di sana yang masih pakai kerudung. Masa iya orang-orang baru harus lepas kerudung hanya demi peraturan yang unfaedah.

Akhirnya saya kembali ke ruangan saya lantas ngadu ke atasan. Kalau memang harus lepas kerudung lebih baik saya keluar ajah dah. Masih banyak pekerjaan lain yang lebih toleran menanti di luar sana.

Tapi ternyata atasan mendukung saya. Dia segera menelpon bagian HRD dan menanyakan kenapa anak buahnya yang baru ini harus buka kerudung. Akhirnya saya diajak balik lagi ke bagian HRD dengan ditemani  oleh belio. Orang HRD  mesem-mesem ke saya sambil bilang, kenapa tadi setuju untuk lepas kerudung. Saya bilang ajah "malu". Keknya dy kena semprot dari atasan saya.

Setelah itu terjadi pembicaraan antara atasan dan para senior saya di ruangan, kalau peraturan lepas hijab itu ada sejak pergantian pemilik perusahaan.

Aneh maksimal yaa, apa hubungan antara hijab atau bahkan niqab dengan kinerja seseorang? Kenapa antipati sekali dengan sebuah kain yang menutup kepala seorang perempuan?

Akhir cerita, saya tetap keluar dari kantor tersebut. Ngga tahan lihat lirikan maut dari senior-senior di sana, boo. Mungkin mereka irik, kenapa si anak baru satu ini bisa tetap pakai kerudung sementara mereka harus melepasnya.

Tetapi Alhamdulillah, saya bisa mempertahankan (bagi saya ini prinsip) hingga titik akhir di sana.

Ada lagi cerita lain dari teman saya. Dia adalah seseorang dengan jilbab yang lebih lebar dari saya. Dipanggil bekerja di sebuah perusahaan di kota sebelah. Ketika itu hanya dia satu-satunya yang memakai kerudung di kantor tersebut. Dia bekerja di belakang layar. Entah di bagian gudang atau apa saya ngga tahu. Yang jelas bukan di bagian pelayanan.

Hingga suatu hari dia mengajukan izin belajar kepada perusahaan tempatnya bekerja. Perusahaan bersedia membantu dengan memberikan pinjaman untuk biaya kuliah
, dengan syarat dia harus mengikuti ikatan dinas selama tujuh tahun. Artinya, setelah lulus nanti, maka dia tidak boleh mengundurkan diri selama minimal tujuh tahun.

Dan apa yang terjadi setelah itu? Teman saya segera dipindah ke bagian pelayanan. Dan hal itu dijadikan alasan paksaaan untuk melepas hijabnya.

Sebelumnya saya juga pernah melamar kerja via telepon ke sebuah tempat usaha kecil, sepi, yang berada di pinggiran jalan. Ketika mendengar nama saya yang ada unsur-unsur islaminya si penerima telepon terdiam sebentar, kemudian bertanya, “kamu pakai kerudung?” Ketika saya mengiyakan dia langsung menjawab kalau tidak ada lowongan untuk saat itu dan segera menutup telepon.

Miris yaa mendengar kisah muslimah di mari. Kami hidup di negara bermayoritas islam, tapi tetap harus berjuang mempertahankan selembar kain penutup kepala ...







Reaksi:

12 komentar:

  1. Masih ada yang begitu ya Mba sekarang, sedih deh....

    BalasHapus
  2. Ya Allah masih ada peraturan kayak gtu zaman sekarang mbak? :(
    Ujiannya perempuan bekerja ya mbak. Semoga kita semua bisa istiqomah aamiin

    BalasHapus
  3. Semoga kita semua tetap bisa beriman dan istiqamah ya mba. Aku kdg suka sedih dengan zaman skrg yang semua serba aneh

    BalasHapus
  4. Speechless saya kalo melihat ada perusahaan kaya gitu. Ayoo kita yang jadi pengusahanya biar bisa bikin kebijakan yang sesuai syariat.

    BalasHapus
  5. Di Indonesia ya Mbak? haduh..
    Pengalaman, saat saya ikut suami sekolah ke Amerika, biar bisa "bekerja" di sana beberapa istri teman suami saya, melepas kerudungnya. Biar bisa kerja katanya. Kerjanya jaga toko atau di dapur restoran..Demi lembaran dollar. Padahal, kalau dicukup-cukupkan masih bisa kok pakai bea siswa suami. Saya pilih di rumah saja, enggak kerja kalau harus lepas kerudung. Meski masih segini juga makenya, rasanya kok demi apa juga...Tapi pilihan masing-masing ya..

    BalasHapus
  6. Wah, memang perjuangan sekali ya Mba.Tapi harus kuat iman untuk meraih ridho-Nya. Saya pun pernah merasakan hal yg sama.

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah ya mbak masih dibimbing Allah untuk istiqomah. Semoga kita semua terus dilindungi hingga akhir hayat.

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah y mba masih bisa bertahan... Prihatin juga hari gini masih aja permasalahkan soal hijab, pdhal dunia fashion sudh berkembang tentang hijab

    BalasHapus
  9. Aku pnah kayak gt. Gajinya lumayan, tp kan gak bisa jg buat nyogok malaikat buat gak nyatet. Asli, aneh tuh peraturan. Pdhl kaga ada hubungan jg sama kinerja

    BalasHapus
  10. Peraturan yang kaya gini nih, salah satu ujian ke Imanan kita di dunia ya ka. Semoga kita semua selalu di lindungi Allah SWT dari hal-hal buruk di dunia

    BalasHapus
  11. Keputusan tepat mbak untuk keluar. Bagaimanapun jangan pernah menggadaikan aqidah demi duniawi. Allah boss kita, lebih takut kalau Allah yg marah :'( Semoga kita selalu istiqomah yaa aamiin..

    BalasHapus
  12. Semoga semua atasan bisa bepengertian ya mbak. Itu HRD kena semprot moga gak mengulangi lagi

    BalasHapus