Senin, 15 Januari 2018

Korek Api Terakhir

Pic by Pinterest

Oleh : Nuree Patria

Asap tipis menggulung keluar dari hidungnya yang berair. Ia meniupkan hawa panas ke telapak tangan kecilnya, lalu menggosok-gosokkan ke lengan. Sekali lagi meniupkan hawa panas ke telapak tangan. Menggosokkan secara kuat dan cepat hingga terasa sedikit hangat, lalu menangkupkan ke pipinya yang memerah akibat sengatan dingin.

Gadis sebelas tahun itu melihat sekeliling. Menatap iri pada kesibukan menjelang natal di sekitar. Toko makanan di seberang jalan memajang kalkun panggang besar di depan etalase. Bangunan  tua penuh ornamen khas natal itu terlihat begitu hangat dan nyaman, di antara salju yang turun.

Dengan lutut gemetar menahan dingin, ia berjalan memasuki gang di sebelah toko, lalu meringkuk di sana. Menyelipkan tangannya yang kebas di antara ketiak sambil menekuk tubuh sedemikian rupa. Mencari kehangatan dari dirinya sendiri. Aroma kalkun panggang menguar lewat celah-celah jendela toko. Memberikan sedikit kehangatan. Juga membuat air liur menitik.  

Gadis kecil itu merogoh saku jaket yang telah lusuh. Berharap masih ada sisa uang untuk dibelikan roti kering pengganjal perut. Namun ia hanya menemukan sebuah kotak korek api--pemberian Maria ketika mereka duduk bersama  di dekat stasiun. 

Entah apa maksud wanita berambut perak itu memberikan kotak kecil berisi tiga batang korek api. Maksudnya, ia tahu wanita itu seperti dirinya, sama-sama gelandangan penghuni kota. Jadi untuk apa ia memberikan barang tidak berguna ini? Maria pasti tahu, ia lebih membutuhkan sekerat daging kalkun panggang atau setumpuk kayu bakar yang menyala saat malam natal bersalju. Bukan sekedar secercah api yang menjalari batang kecil ini. 

Gadis kecil itu mengeluarkan korek api pertama.  Yah, setidaknya ketiga korek api tersebut bisa menghangatkannya untuk sekejap, sebelum ia mati kedinginan di pagi menjelang natal. 

Terasa hangat ketika ia menangkupkan telapak tangan. Menjaga agar korek api pertama terus menyala. Ia menoleh ketika merasakan sang ibu duduk di sampingnya sambil memegang sebuah buku, membacakan sebuah dongeng. Perempuan bersanggul itu tersenyum lalu menaruh buku  tersebut di pangkuan. Ia mencubit pipi sang anak. Dengan gemas menggosokkan hidung mereka berdua.  Mengangkat dan mengajaknya berputar-putar. Membuat gaun mereka ikut mengembang. Gadis kecil tertawa riang. Meminta agar mereka berputar lebih cepat lagi. 

Sayang, korek api pertama keburu habis terbakar. Tapi pelukan ibunya masih terasa begitu nyata. 

Gadis kecil itu termangu. Perlahan memeluk tubuhnya sendiri. Ia memandang serpihan batang korek api di atas salju. 

Serta merta ia membuka kotak itu lagi. Mengeluarkan sebatang korek api, lalu memantik kembali. Sepasang mata kelabu membulat ketika gang sempit di hadapannya berubah menjadi sebuah rumah besar, dengan langit-langit yang tinggi. Sang ibu masih tetap dengan senyum terakhir yang diingat. Mengajak menari dengan iringan piano yang berada di ruangan itu. Gadis kecil melihat salju lebat yang sedang turun dari balik jendela rumahnya yang besar. Tapi yang ia rasakan justru sebuah kehangatan. 

Lalu sebuah teriakan menghancurkan saat-saat indah tersebut. Ayahnya sekonyong-konyong menghampiri, memisahkan mereka. Semua berjalan begitu cepat. Lelaki itu memukuli sang ibu, lalu menyeret menuruni tangga. Tapi ibunya berontak, mendorong hingga lelaki itu tersungkur di bawah tangga.

Batang korek terjatuh di atas salju. Mengering garing dimakan api. Tubuh gadis kecil bergetar hebat. 

Ia bangkit, mengusap ingus yang keluar, lalu berlari. Menyeruak kerumunan manusia yang sedang menikmati malam natal. 

Kaki-kaki kebas terus berlari. Membawa langkah terseok ke sebuah rumah besar.  Dengan kaki gemetar menahan dingin, ia mencoba berdiri tegak di depan pintu gerbang. Sepasang tangan mungil mencengkeram erat pagar besi. Berusaha menghilangkan gigil.   

Bangunan tua di hadapannya terlihat begitu dingin dan angkuh. Tidak ada lagi kehangatan yang tersisa   meskipun cerobongnya  meliukkan sisa dari kayu yang tengah terbakar di dalam sana. Tapi ia bisa merasakan kerinduan rumah ini terhadapnya. Seakan mengucapkan selamat datang pada penghuni kesayangan yang telah menghilang bertahun lalu. 

Rumah ini telah memberitahu gadis kecil, tentang setiap sudut paling rahasia dari dirinya. Arti setiap tulisan di dinding, juga terowongan di balik semak-semak yang menuju ke luar. Hanya diketahui oleh mereka berdua.

Gadis kecil itu terkenang penyebabnya menjadi gelandangan penghuni kota selama bertahun-tahun. Suatu malam, ia melihat sesuatu yang menyembul dari balik tanah yang digali anjingnya. Tangan dengan setengah jemari yang telah putus. Tapi ia masih ingat cincin batu berwarna hijau yang melingkari jemari lentik itu. 

Gadis kecil menyentuh kotak korek api di dalam saku jaket tebal yang lusuh. Ia tahu apa yang akan dilakukan dengan korek api terakhir. 


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar