Kamis, 17 Agustus 2017

Kisah Zora dan Hanan

Image by Pinterest
Oleh : Nuree Patria

Zora mengintip dari balik lensa. Terlihat anak-anak muridnya tertawa riang. Mereka berhasil menangkap seekor ikan mas besar. Beberapa anak perempuan berteriak sambil berlari ketakutan. Ikan yang mereka tangkap loncat dari jaring lalu menggelepar di atas tanah. Zora tersenyum. Menurunkan kameranya lalu melihat berkeliling.

Jala matanya menari; dari kolam pemancingan ikan, saung sawah, kemudian menuju ke arena memandikan kerbau. Begitu banyak permainan dan fasilitas yang di tawarkan untuk anak-anak di Taman Arwana ini. Di sini juga terdapat tempat penyewaan motor ATV yang disediakan untuk dewasa. 

Di beberapa sudut terdapat beberapa keluarga kecil yang sedang bercengkerama.

Sebuah tempat yang selalu mengundang gelak dan tawa. Tempat wisata yang menyenangkan untuk keluarga.

Ia pasti akan sering membawa anaknya liburan ke sini nanti.

Seandainya ia memiliki anak ...

Gadis itu duduk menjuntai di sebuah saung. Tidak mengacuhkan ikan-ikan yang berenang bergerombol di bawah sana. Jemarinya yang  sibuk menggeser layar kamera digital berhenti di foto seorang gadis kecil. Perasaan bersalah menyeruak. Naya pasti heran, mengapa ibu guru kesayangannya mendadak cuek. Padahal anak perempuan berpipi gembil itu selalu berusaha menarik perhatiannya. Hendak 'memamerkan' sang ayah.

Akhirnya, di saung melukis caping topi, ia mendekati gadis kecil itu. Memuji lukisan kupu-kupunya. Mengajaknya berbicara hal-hal yang menyenangkan. Dan Naya pun kembali ceria.

Zora menggeser layar kembali. Foto seorang lelaki di atas motor ATV. Ia melihat ketika lelaki itu ikut mengantri permainan tersebut. Seperti tersihir, Zora mengikuti setiap gerakannya. Bahkan diam-diam mengarahkan kamera digitalnya. Merasakan hatinya yang terus bergemuruh.

Zora dan Hanan.

Sepuluh tahun yang lalu, nama itu tersemat begitu indah. Mereka berkenalan ketika mendaftar di fakultas yang sama. Dan hubungan manis mereka pun berlanjut, mengisi masa-masa indah di kampus.

Tapi sesuatu terjadi pada gadis itu.

Air susu yang keluar sebelum waktunya membuat Zora berpikir tentang kemungkinan kanker payudara. Dan hasil tes yang diterima tidak menunjukkan sesuatu yang lebih baik.

Hiperprolaktinemia, kelebihan hormon prolaktin. Terdengar begitu sederhana dan tidak berbahaya. Tapi efek yang ditimbulkan membuatnya harus mengubur impian untuk menjadi seorang ibu.

Dan ia memutuskan meninggalkan Hanan. Tanpa penjelasan.

Bertahun-tahun Zora menghilangkan diri. Dan kini mereka bertemu dalam situasi yang sangat berbeda. Lelaki itu tetap setampan dulu. Malah semakin sempurna dengan kematangannya.

Sedangkan ia ...

Salah satu lulusan terbaik di fakultas mereka hanya menjadi seorang guru PAUD. Bukankah Zora terlihat menyedihkan?

Ia selalu berharap, dapat memamerkan anak lelaki tampan yang memiliki paras seperti dirinya pada Hanan. Tapi Zora tahu, hanya membuai diri dengan impian semu. Telah beberapa kali keluarganya berusaha menjodohkan. Mengenalkannya dengan para lelaki yang sanggup menerima kekurangannya tersebut. Tapi gadis itu menyadari, pernikahan bukan hanya tentang dirinya dan calon suaminya nanti. Ada keluarga besar yang akan selalu membayangi kehidupan mereka. Dapatkah ia menanggapi pertanyaan-pertanyaan menjemukan yang ia sendiri akan jenuh menjawabnya nanti? Dan bukankah di setiap jawaban yang ia berikan, hanya akan terus mengingatkan kalau dirinya adalah perempuan yang tidak sempurna ...

Seseorang berdehem. Membuat Zora menoleh sedikit untuk kemudian berjuang meredakan gemuruh di dada.

"Ibu guru sudah makan?" tanya lelaki yang kini ikut duduk menjuntai di sebelah gadis tersebut. Sepasang kakinya menggoda segerombolan ikan mas yang berenang. Zora menjawab singkat. Pura-pura menekuri foto dalam kamera.

"Waktu Naya cerita tentang ibu guru bernama Zora, pikiranku langsung tertuju pada kamu." Terdengar tawa canggung, lalu hening kembali.

Hanan menatap gadis yang berada di sebelahnya, seakan menyelidik.

"Kenapa lulusan fakultas ilmu kesehatan macam kamu memutuskan menjadi seorang guru?" Zora mengangkat wajahnya dari kamera. Tertawa kecil.  Berusaha mengurangi kecanggungan yang tercipta.

"Susah cari kerja, Pak." Hanan ikut tertawa. Renyah. Betapa Zora merindukan suara tawa itu.  

Gadis itu melanjutkan ucapannya setelah kecanggungan di antara mereka mencair, "Aku turut menyesal tentang ibu Naya." 

Wajah Hanan mendadak muram. Ia berkata setelah terdiam lama,"Dia meninggal karena kecelakaan mobil." Zora terdiam. Pandangannya teralih pada seorang bocah laki-laki yang menangis di atas punggung kerbau. Seorang perempuan--mungkin guru anak itu, bergegas menurunkan. Teman-temannya tertawa meledek. 

"Hari itu adalah hari pertamanya bekerja setelah cuti melahirkan ..." Hanan mengusap wajah.

"Harusnya aku mengantar, namun entah mengapa ia memutuskan berangkat sendiri."

Zora melihat kepedihan di mata Hanan ketika bercerita tentang perempuan itu. Dan tiba-tiba saja hatinya terasa sakit.

Lelaki ini terlihat begitu mencintai istrinya.

"Tapi ia meninggalkan seorang anak yang sangat cantik." Zora memperhatikan Naya yang sedang bermain.

"Ya," sahut Hanan segera.

"Entah apa jadinya kalau tidak ada Naya. Ia adalah pengobat hatiku." Zora tersenyum mengingat tingkah menggemaskan anak itu.

"Naya senang mewarnai. Goresan crayonnya rapi dan halus."

"Seperti aku, kan" Hanan menyeringai. Membuat Zora tertawa. Mereka mengamati Naya yang tengah berbagi bekal dengan seorang teman. Perlahan pandangan Hanan tertuju pada gadis di sebelahnya.



"Aku sudah tahu tentang keadaanmu," Zora tertegun mendengar ucapan tersebut.

"Oh, ralat. Aku terlambat mengetahui keadaanmu. Itu sehari setelah acara lamaran." Hanan tertawa kecil sebelum melanjutkan, "Ibuku berpikir anak lelakinya ini sudah jadi perjaka lapuk hingga harus segera dicarikan jodoh." Zora meneguk ludah melihat tatapan Hanan.

"Kenapa kamu tidak cerita?" Wajah di hadapan Zora kembali muram. Ada perih yang terlolos bersama embusan napas.

"Aku selalu menerimamu apa adanya, Zora. Kamu tahu itu."

Gadis itu menatap di kedalaman mata Hanan. Hingga sebuah panggilan menyentak kesadarannya. Seorang rekan guru mengajaknya untuk makan bersama. Zora sudah bergegas bangkit. Tapi Hanan memanggilnya. Membuat Zora tertahan. Lelaki itu berdiri di hadapannya. Menyerahkan sesuatu. Fotonya di samping motor ATV. Zora mengernyitkan alis tidak mengerti.

"Yang ini lebih jelas daripada di layar kamera digital punyamu." Gadis itu menggigit bibir. Pipinya terasa menghangat.

Hanan hanya mengedipkan sebelah mata sebelum berlalu.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar