Senin, 08 Mei 2017

L for the Tears, part 4

“Me-nye-bal-kan.” Livia mengeja kata-kata itu sambil mengintip dari balik tembok apotek dengan ekspresi jijik. Ia duduk kembali di depan komputer dengan gusar.

Padahal dari tadi sengaja tidak diangkatnya telepon dari Arhan, ternyata dia malah muncul di sini. Padahal Livia sedang banyak kerjaan, tapi mana bisa dia konsen bekerja kalau sedikit-sedikit Gima berteriak padanya, mengomentari ‘pacarnya’ yang sedang duduk manis di depan Apotek itu.

Livia mencoba tak mengacuhkan lalu melanjutkan pekerjaan. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Sesekali bandul perak berbentuk jangkar kapal di pergelangan tangan beradu dengan keyboard komputer. 

Laporan sudah selesai. Livia menyimpan file di komputer, juga flash disk miliknya. Terakhir ia memasukkan kertas ke dalam mesin print. Gadis itu melamun sambil menunggu berkasnya tercetak semua.   Tiba-tiba ia mengangkat wajah, menyadari, mengapa ruangan mendadak begitu sunyi.

Gadis itu menggeser kursinya yang beroda, mengintip sedikit ke konter Apotek, lalu menepuk jidat.

Astaga! Ngapain mereka berkumpul sambil mengintip dari bawah meja konter begitu? Livia menghampiri mereka, melipat tangan sambil berdehem. Alif, Gima, Nanda, dan Manda. Semua menoleh ke arahnya lalu langsung membubarkan diri. Pura-pura sibuk bekerja. Manda pun segera kembali ke ruangannya di UGD. Sepertinya perawat muda itu lupa tujuannya datang ke apotek.  

Livia berdecak melihat kelakuan teman-temannya. Ia menghela napas. Sepertinya ia memang harus pulang sebelum Rumah Sakit ini semakin heboh.

Jam setengah empat sore.

Dan mata sipit lelaki di depan Apotek itu seakan tersenyum ketika melihatnya. 

Sepertinya memang harus pulang, gumam Livia dalam hati. Ia kembali ke depan komputer. Memeriksa hasil pekerjaannya. Memasukkan berkas yang tadi sudah ia print ke dalam sebuah map. Besok ia hanya tinggal meminta tanda tangan Apoteker mereka, lalu menyerahkan kepada Manajer Medis Rumah Sakit.  Pikirnya sambil merapikan meja lalu mematikan komputer.

Livia bekerja di sebuah Rumah Sakit Swasta besar di kotanya. Rumah Sakit itu terkenal akan keramahan para karyawannya. Sudah memiliki beberapa cabang di kota lain.

Awal mula bekerja di sana Livia sempat merasa tidak betah. Tuntutan loyalitas lah penyebabnya. Pergi pagi buta, lalu pulang bersamaan dengan matahari terbenam. Begitu setiap hari. Tapi lama kelamaan ia mulai menikmatinya.  

Apalagi ia bekerja tepat ketika Rumah Sakit ini baru dibuka. Ia merasa ada keterikatan kuat antara dirinya dan tempat itu.

Pernah ia sampai menginap di dalam apotek hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Apotek mereka memang cukup nyaman. Pintu masuk apotek berada di samping kasir rawat jalan. Di dalam apotek, di seberang pintu masuk terdapat deretan loker yang disusun agak menjauh dari tembok, sehingga membentuk sebuah ruangan kecil untuk berganti pakaian. 
Sementara di sebelah pintu masuk berdiri sebuah lemari kokoh tempat menyimpan berdus-dus botol infus.

Sebuah tembok membatasi ruangan berisi loker dan kardus-kardus infus dengan ruangan apotek yang sebenarnya. Tembok di ruangan dalam itu tertutup oleh lemari-lemari besar berisi obat dan alat kesehatan. Di satu sisi, terdapat sebuah jendela kaca lebar yang menampilkan pemandangan ke area parkir. 

Di dekat lorong masuk terdapat tempat cuci piring. Ada dua tempat sabun cuci piring di sana. Yang berwarna pink untuk mencuci peralatan meracik, sementara yang warna biru digunakan untuk mencuci bekas peralatan makan. 

Di sebelah tempat cuci piring terdapat meja panjang yang digunakan untuk meracik. Di atasnya berisi lumpang, blender obat, kertas perkamen, tablet-tablet dalam wadah dan kemasannya, aneka kapsul berbagai ukuran dan warna. Juga sebuah mesin press perkamen otomatis dan kertasnya. Semua tertata begitu rapi. Tapi tunggu saja jika resep dari dokter anak sudah masuk...

Sementara di sebelah kanan terdapat meja komputer juga lemari tempat menyimpan arsip. Di ujung ruangan terdapat sebuah kamar mandi kecil.  

Livia membuka laci meja komputer dan mengeluarkan sebuah kunci. Membuka loker, lalu mengeluarkan tasnya. Mencangklongnya di pundak. Kemudian pamit pada teman-temannya.  

Arhan langsung bangkit begitu Livia keluar dari Apotek. Gadis itu tersenyum menahan kesal. Senyum yang biasa ia berikan pada pasien yang kelewat cerewet dan menyusahkan. Lewat ekor mata ia bisa melihat Gima yang mengikuti tiap geraknya dari balik komputer di konter depan apotik. Ia juga bisa menebak Nanda yang sedang mengintip dari lubang tempat keluar masuk resep. Habis ini mereka pasti akan merumpi dahsyat.  

“Lain kali jangan menunggu di depan Apotek,” kata Livia pada Arhan yang berjalan di sebelahnya.

“Kenapa?”

“Enggak enak sama orang. Itu kan tempat untuk pasien.” Livia tersenyum. Menahan gondok di hati.

“Tadi aku hubungin kamu, mau tanya kita bisa ketemuan di mana. Tapi kamu enggak jawab telepon aku," sahut Arhan tanpa rasa bersalah.

“Oh ya? Enggak dengar. Lagian tadi kehabisan pulsa.” Livia mengarang jawaban sambil tertawa kecil. Pintar sekali ia bersandiwara. 

Mereka tidak berbicara lagi sampai di parkiran.
Arhan membukakan pintu mobilnya untuk Livia. Memutari mobil lalu duduk di belakang setir. Memakai seat belt, juga kacamata hitamnya sebelum menyalakan mobil.

Cih, banyak gaya. Livia membuang muka agar lelaki itu tidak melihat ejekan yang menari-nari di bibirnya. Sementara Arhan, sampai detik ini pun ia masih terpesona pada ciptaan Tuhan yang satu ini. Mata bulat indah warna kelam yang dinaungi bulu mata lebat, dan dagu berbentuk sempurna, rambut sedikit ikal sepunggung, hampir mencapai pinggang, yang diikat seadanya… bahkan siluet samping gadis itu nampak begitu cantik.  

Arhan lebih suka dandanan yang seperti ini ketimbang dandanan Livia tempo hari—dengan jepit rambut ungu selebar talenan. 

“Kita makan dulu, yuk.” Arhan buka suara untuk mengenyahkan ingatan itu. Ia selalu tersenyum lebar setiap mengingat kencan pertama mereka.

“Tapi aku sudah makan tadi.” Terdengar keluhan kecewa. 

“Padahal aku sengaja jemput kamu buat makan siang bareng.”

Makan siang di jam empat sore? Ha ha ha. Livia mencibir lagi. Tapi ia terdorong ke depan ketika Arhan menghentikan mobil dengan tiba-tiba. Lelaki berkemeja garis kelabu itu membuka kacamata, lalu menaruhnya ke dasbor.

“Kecelakaan,” desisnya.

"Tunggu sebentar, ya.” Arhan keluar dari mobil diiringi tatapan sebal Livia. Ia langsung membuang pandangan ke arah samping sambil memerosotkan tubuhnya lebih dalam ke jok mobil. Enggan melihat kejadian itu.

“Kenapa sih kalau bareng dia mesti ketemu hal yang aneh-aneh," guman Livia sebal. Ia menoleh dengan malas-malasan, tapi matanya langsung membesar seketika. Tubuhnya mendadak tegak tegang melihat Arhan dan beberapa orang menggotong korban kecelakaan yang berdarah-darah itu menuju ke arahnya. Ia menutup mulutnya menahan mual. Isi perutnya sudah hampir keluar ketika Arhan membuka pintu mobil lalu meletakkan orang itu di jok belakang. Bergegas Arhan duduk di balik setirnya lagi. Kali ini ia lupa memakai seat belt. 

“Kayaknya kita balik ke Rumah Sakit lagi.” Lelaki agak gondrong itu duduk di sebelahnya lalu memutar mobil dengan cepat. 

Livia menutup mulutnya sepanjang perjalanan. Berkeringat dingin ketika melirik kemeja Arhan yang berbercak merah. Teringat lagi darah yang bercucuran seperti keran air yang terbuka beberapa tahun silam. Usus yang terburai, keluar dari perut ayahnya…

Begitu mobil berhenti, Livia bergegas keluar dan berlari ke Apotek yang berada di seberang UGD. Ia langsung ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya.

Arhan menyadari keanehan Livia, tapi ia sedang sibuk mengurus korban kecelakaan itu, bersama seorang pejalan kaki yang ikut menolong. 

Tahu-tahu Livia sudah berdiri di sampingnya, menyodorkan sebungkus burger. Di apotek tadi, kebetulan teman-temannya yang dinas sore sedang memesan makanan. Dan Livia teringat pada lelaki itu. Jadilah dipesannya sebungkus burger. 

“Thanks,” kata Arhan  setelah melihat isinya. Livia berdiri di sebelah Arhan. Ikut bersandar pada dinding UGD sambil memasukkan tangannya ke dalam saku.  

“Gimana keadaannya?”

“Kepalanya luka parah. Pendarahannya banyak banget, sampai kena jok mobilku...”

“Hoeks.” Livia menutup mulutnya, menahan  suara  yang  keluar  dari  tenggorokan  lagi  sambil tertawa.

“Sori, aku agak mual kalo denger begituan." Berdehem untuk membersihkan pita suara. 

"Oh ya, keluarganya gimana?”

“Dalam perjalanan. enggak apa-apa kan kalau kita pulang setelah keluarganya datang?” 

“Enggak apa-apa. Aku bisa sambil lanjutin kerjaanku.” Livia menegakkan tubuh lalu berbalik. 

“Oke,” sahut Arhan pada Livia yang telah berjalan meninggalkannya. Lelaki itu memperhatikan punggung yang menjauh. Entah apa yang ada di pikirannya tentang perempuan dalam balutan seragam hijau itu. 

Arhan menahan napas ketika perempuan itu menghentikan langkahnya lalu berbalik lagi. Ia pura-pura membuka bungkusan burgernya. Ketika gadis itu bicara Arhan sudah siap melahap burgernya. “Sebaiknya aku pulang sendiri saja.” Mulut lelaki itu menganga.  

“Aku… enggak tahan mencium bau darah.” Arhan lupa memasukkan cheeseburger ke dalam mulut. 
***

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar