Minggu, 07 Mei 2017

L for the Tears, part 2

Livia menepuk lengannya. Ah sial, nyamuk itu berhasil lolos. Gadis itu menggaruk tempat yang tadi dihinggapi sang nyamuk. Terasa gatal dan perih. Makhluk itu pasti sudah berhasil mengisap darahnya. 

Gadis itu baru menyadari makhluk lain yang berada di sebelahnya. Menjemukan sekali berada di dekat orang ini. Tapi Livia hanya bisa mengeluh dalam hati. 

"Kenapa?" tanyanya pada Arhan yang masih tersenyum-senyum tidak jelas. Mereka sedang berada di taman samping rumah, sementara para orang tua sedang mengobrol di ruang tamu. 

Seekor nyamuk hinggap di pipi Arhan, tapi sepertinya tidak disadari. Tangan Livia gatal ingin menepuk pipinya. Jangan-jangan itu nyamuk yang sama dengan yang tadi menggigit kulit lengannya. Livia teringat dengan tepukan lalat di gudang rumahnya. Apakah alat itu bisa untuk menepuk nyamuk juga? Mungkin ia bisa meminta lelaki itu untuk tidak bergerak dulu, sementara ia mengambilnya di gudang.    

“Sudah lima belas menit kita saling diam. Seperti orang marahan saja.” Nyamuk yang tadi hinggap di pipi Arhan terbang. Mata Livia mengikuti kepakan sayap makhluk itu, yang akhirnya menghilang di kegelapan. 

Lihat, ternyata bukan hanya dia yang enggan berdekatan dengan lelaki ini. Nyamuk pun ogah. 

Gadis berdagu lancip itu ikutan tertawa meskipun terlambat. Sekedar menghargai lelucon lelaki itu. Ia menyandarkan tubuh pada pagar pendek yang menghubungkan halaman samping dengan sebuah jalan kecil. Sedang berpikir untuk menghitung lampu jalanan yang terlihat dari tempatnya berdiri. 

“Aku ini pemalu, agak susah bergaul dengan perempuan.” 

Jadi karena itu kamu minta dijodohkan oleh ibumu? cibir Livia dalam hati. 
“Aku juga bukan orang yang pandai bergaul dengan orang baru.” 

“Kalau begitu kita cocok, ya!” 
Livia tersenyum garing, merasa salah bicara. Ia menghela napas. Rasanya  ingin secepatnya ia enyah dari hadapan lelaki ini.  

“Oh ya! Mungkin mulai sekarang kita akan sering bertemu. Aku akan sering antar-jemput kamu. Biar kita saling mengenal lebih jauh.” Livia mendengus mendengar ucapan itu  

“Kenapa?” Arhan menyadari perubahan raut wajah gadis di sebelahnya. Livia menatapnya gusar. Sudah enggan berbasa-basi lagi.  

“Memang kamu setuju dengan perjodohan ini?” Sekejap, Arhan tertegun mendengar pertanyaan itu. 

“Yaa, kenapa tidak, kalau aku dijodohin dengan gadis yang memang aku suka?” jawabnya gamam. Bukan karena tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Tapi ia masih menerka-nerka arah pembicaraan mereka.  

Livia memutar bola mata, mengejek. 
“Masa kamu bisa suka dengan gadis yang baru pertama kali kamu lihat?” Arhan terkekeh mendengar celaan itu.  Sudah bisa menangkap apa yang ada di pikiran gadis yang telah menarik hatinya sejak awal. 

“Sudahlah, Livia. Kita jalani saja perjodohan ini,” sarannya kemudian. 
Livia menggeleng pelan. “Cinta pada pandangan pertama itu enggak ada lho, Han. Yang ada itu, hasrat pada pandangan pertama,” tandasnya tetap bersikeras. 
“Ya sudah. Anggap saja aku berhasrat sama kamu. Aku berhasrat sekali pada perempuan yang lembut dan cantik seperti kamu.” Arhan menatap tepat ke dalam bola mata kelam di hadapannya. 
Livia memajukan wajah, sedikit mendongak ketika bertatapan dengan lelaki itu. 

“Kesan pada pandangan pertama itu enggak selalu benar lho.” 
Arhan tersenyum nakal merasakan embusan napas di wajahnya. Ia mendekatkan bibirnya. Membuat gadis itu menjauh tanpa sadar. 

“Bisa kamu buktikan?” bisik Arhan sengaja menggoda. Sepasang mata sipit menatap dalam. Lama, sampai lawannya memalingkan wajah. 

Lagi-lagi lelaki itu tersenyum kecil melihat punggung Livia yang menjauh. Ia menyukainya sejak pandangan mereka pertama kali bertaut. Dan sepertinya ia semakin tertarik pada gadis itu. 
*** 

“Maaa…” Livia merajuk, sementara sang ibu sibuk membuka-buka bingkisan yang dibawakan oleh keluarga Arhan. Perempuan setengah baya itu sudah mengganti baju setelannya dengan daster motif bunga-bunga besar, yang warnanya sudah pudar. Beberapa roll rambut menggulung di atas kepala. 

"Mama dengar Via ngga sih?!" sungut gadis itu ketika dilihatnya sang ibu tidak menggubris. Tangan Sita yang sedang membuka bingkisan terhenti. Menatap kesal pada putri bungsunya. Ia bertolak pinggang sambil berkata dengan nada tinggi, “Memang apa sih kurangnya si Arhan? Dia cakep, anaknya baik, sopan, pekerjaan jelas, hidup sudah mapan. Alasan apa lagi yang mau kamu bilang?” 

“Nanti Via cari pacar, Ma. Tahun depan Via nikah. Tapi sekarang jangan jodohin Via sama dia, ya. Please…” 

Sita hanya geleng-geleng kepala sambil menggoyangkan telunjuk. “Dari tahun kapan kamu ngomongnya begitu? Nyatanya mana? Maaf, Livia. Untuk kali ini Mama harus keras sama kamu.” Bibir Livia mengerucut. Habis sudah harapannya. 

Mata Livia bersinar melihat Eva yang baru muncul dari dapur sehabis membereskan sisa makan malam mereka dengan keluarga Arhan. Zaki berlari melewati ibunya sambil menadahi kacang, cokelat dan permen dengan ujung kaos. Memanggil Livia sekilas, lalu terus ke halaman depan. Livia segera mendekati sang kakak. 

"Kak Eva, tolong Via dong," rajuk Livia memohon bala bantuan. Perempuan bertahi lalat di tempat yang sama seperti ibunya itu hanya menatap acuh tak acuh. 

"Dulu aku pernah jodohin kamu sama teman Mas Bembi, malah ditolak. Sekarang terima saja apa yang mama pilihkan." Kata-kata Eva diucapkan sambil lalu. Tidak peduli pada perasaan adiknya yang luntang-lantung.  

Livia teringat seorang lelaki cungkring berkulit gelap, yang pernah beberapa kali bertemu dengannya. Selama pertemuan mereka yang beberapa kali itu, Livia hanya menjadi pendengar yang baik--di antara kantuk yang menjemukan, tentang bagaimana lelaki itu memulai usahanya dari nol lalu berhasil menjadi pengusaha roti yang memiliki beberapa konter di mall.     

Dering telepon memecah ingatan tentang si pengusaha roti. Livia hendak menjangkau meja telepon, tapi seseorang keburu mendahuluinya.  

“Halo?” Suara Sita terdengar riang. 

“Iya, Mbak Rini. Sudah sampai? Alhamdulillah.” Livia memasang telinga.  Terdengar suara tawa. 

“Livia? Dari tadi dia tanya-tanya terus tentang Arhan.  Perempuan itu tergelak lagi sementara sepasang mata menanap. 

“Namanya juga perempuan. Lain di mulut, lain di hati. Di depan jaim, di belakang tanya-tanya mulu. Yah, perempuan dari zaman kita enggak berubah ya, Mbak.” 
Ibunya tertawa renyah sementara Livia melipat tangannya sambil menghela napas kesal. Memanyunkan bibir penuh kesal.  
*** 

Livia menutup pintu kamar dengan sebal. Pintu dari kayu jati itu terdengar berdebum di belakangnya, tapi ia tidak peduli. Gadis itu menjatuhkan tubuh tertelungkup ke tempat tidur. Melampiaskan kesal dengan memukul dan menendang kasur. Teriakannya tenggelam di balik bantal yang menutupi kepala. 

Setelah amarahnya reda, ia bangkit dari tempat tidur lalu mendekati lemari baju. Dipandangi pantulan dirinya di balik cermin. Rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajah. Perasaannya begitu buncah hingga membuat kedua pipinya bersemu merah. 

“Kencan, kencan, kencan. Fiuh...” Livia mendelik kesal pada bayangannya sendiri. 
Sepertinya Mama sudah cinta mati pada calon mantunya yang satu itu. Sudah tidak ada harapan untuk membujuknya membatalkan perjodohan. Kak Eva pun tidak bisa diharapkan juga. Satu-satunya cara hanya dengan membuat Arhan illfeel padanya. 

Livia meniup sejumput rambut yang menutupi wajah. Menatap bengis pantulan dirinya. 

“Suka perempuan yang lembut? Hah? Baik? Hah?” Livia bertanya sengit pada dirinya sendiri di dalam cermin. 

“Hah? Lembut? Baik? Cantik? Hah? Suka perempuan yang seperti itu? Hah? Hah? Hah?” 

Cermin lemari sampai berembun terkena uap napasnya. Dan tiba-tiba Livia tersenyum kecil. 

“Baiklah. Tunggu  aku, Sayang…” ia mengerling nakal pada sosok di balik cermin. 
*** 

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar