Minggu, 07 Mei 2017

L for the Tears, part 1



Sudah ada dua mobil yang parkir di depan rumahnya ketika Livia tiba. Ia lantas mendesah. Tidak mungkin ..., pikirnya. Gadis berseragam sebuah Rumah Sakit Swasta itu menghela napas letih. Sepasang bahu kurus itu luruh. Ia memejamkan mata kuat-kuat. Berharap ini hanya ilusi akibat mata minus 2,75 miliknya. Tidak ada yang berubah ketika Livia membuka kedua netranya kembali. Keberadaan dua mobil itu berhasil mengusir kepenatan yang ia alami sebelumnya di Rumah Sakit, lalu menggantinya dengan rasa kesal. Ternyata ibunya sungguh-sungguh dengan ucapannya kemarin. 

Livia membuka pagar samping pelan-pelan. Terdengar suara ramai orang tengah berbincang-bincang dan tertawa. Ia mengendap-endap lewat pintu samping sambil menenteng sepatunya. Sayang, Mbak Yanih memergokinya. Pembantu baru yang super cempreng itu berteriak memanggil dengan keceriaan berlebihan. Ia hanya bisa pasrah ketika Yanih menyeret ke ruang tamu. Suara tawa riang langsung menghilang. Semua mata langsung tertuju padanya. Seakan ia makhluk luar angkasa yang mengganggu kedamaian mereka, para manusia bumi.

Livia melirik sepasang sepatu di tangannya, lalu menyembunyikannya di balik tubuh. 

“Aih, sudah sampai anak Mama.” Sita yang menguraikan kecanggungan sejenak itu. Ia menyambut hangat putri bungsunya. Sambutan hangat yang berlebihan. Livia menatap Eva yang tadi duduk di sebelah ibunya, memohon pertolongan. Tapi kakak semata wayangnya itu hanya mengangkat bahu sambil tersenyum. Senyum yang hanya bisa diartikan oleh mereka berdua.  

“Ayo, kasih salam sama Oom Budi dan Tante Rini.” Perempuan itu berdiri di sebelah Livia. Mendorong kepala anaknya dari belakang agar sedikit merunduk hormat. Livia sempat melirik meja ruang tamu yang dipenuhi aneka sirup dan air minum kemasan. Juga beberapa makanan kecil yang terserak di sana. 

"Lihat anakku, Mbakyu. Cantik kan. Mirip denganku waktu muda dulu." Pujian yang diikuti tawa itu membuat Livia merasa seperti burung yang sedang dipamerkan dan hendak dibeli orang. 

Lihat bulunya, bagus kan. Dengar suaranya. Sering menang lomba lho, Mbakyu. Tiap hari dikasih makan jangkrik sih. Krik ... Krik ... Krik ... 

Senggolan sang ibu membuat burung dan jangkrik dalam kepala beterbangan.  Disalaminya seorang lelaki setengah baya berambut perak dan istrinya. juga lelaki muda yang duduk di sebelah mereka. 

Hm, Ini pasti calon jodoh yang kemarin dipromosikan Mama. Livia tersenyum menatap lelaki bertubuh tinggi besar yang disalaminya. Sepasang mata memanjang  menatapnya seakan menilai. Livia merasa tertantang. Ia balik menatap wajah di hadapannya. 

Wajah berbentuk kotak di hadapannya masih menatap. Rahangnya terlihat tegas, tapi membentuk sudut lancip ke bawah. Sepasang alis tebal menaungi mata kecil memanjang.  

Dagu dan pipinya terlihat sedikit kasar. Mungkin ia lupa bercukur tadi pagi. Ia mengenakan kalung hitam yang bandulnya disembunyikan di balik kemeja putih bergaris yang ia kenakan.   

Lelaki berkulit kecokelatan itu melirik sekilas pergelangan tangan yang dihiasi gelang. Gelang kulit berwarna toska yang membelit sebuah bandul berbentuk jangkar kapal, yang dikenakan gadis itu. Livia baru tersadar kalau tangannya masih berada dalam sebuah genggaman hangat. Ia segera menarik tangannya, lalu berusaha menarik perhatian sang ibu yang masih asyik berceloteh.     

“Ma, aku ganti baju dulu, ya!” 

“Ya sudah, mandi sana. Dandan yang cantik.” Ibunya mengerling genit. Membuat gadis itu bergidik. Tidak yakin apakah wanita di hadapannya betul-betul sang ibu. 

“Mari, Tante,” pamitnya sopan. Ia melirik pada lelaki yang sudah duduk di sofa. Lelaki itu hendak tersenyum, tapi Livia keburu membuang muka. Ia ingin segera terbang ke kamarnya. Menghindari tatapan menilai dari mata sipit lelaki itu. 

Dijual… jual… Anak gadis dijual…, cibir gadis dengan cepolan rambut yang belum sempat dibuka itu dalam hati sambil menaiki anak tangga.  lalu masuk ke dalam kamar. 
*** 

Livia menjatuhkan tubuhnya ke kasur yang nyaman lalu memejamkan mata. Kamarnya tidak terlalu besar, tapi selalu dirindukan. Ia mengecat kamarnya dengan warna abu-abu. Di sudut kiri ruangan itu ada sebuah tempat tidur ukuran single dengan sprei biru bercorak bunga-bunga. Bantal, guling juga bed cover ditumpuk di ujungnya. 

Di sebelah tempat tidur ada meja rias kecil dengan cermin berbentuk bulat telur. Di atasnya berisi segala perlengkapan make up Livia yang jarang dipakainya. Lahan di sebelahnya ditempati sebuah lemari kayu jati dengan posisi menyamping yang digunakannya sejak remaja. Sementara di sudut kanan kamar, tepat di seberang pintu masuk, terdapat sebuah meja kerja yang berisi puluhan novel, juga beberapa buku tentang kesehatan. Laptopnya masih terbuka di atas meja itu, tapi layarnya mati. Sepertinya baterainya sudah habis. Ia tidak sempat menyelesaikan pekerjaannya semalam. Rencana ibunya membuat gadis itu uring-uringan semalam suntuk.  

Livia menyalakan AC yang terpasang di atas meja kerjanya hingga maksimal, lalu memejamkan mata. Mencoba melupakan kalau di bawah sana, ada satu keluarga yang tengah menantinya. 

Ia sudah hampir terlelap ketika Yanih mengetuk pintu kamar sambil memanggilnya cempreng. Gadis itu terbangun dengan kaget lalu menyahut sebal, menggeliatkan tubuh dan bangun dengan enggan. Ia sengaja berlama-lama memakai selop tidurnya lalu berjalan dengan malas sambil membungkuk. Selop berkepala babi diseret pelan-pelan, seakan gaya gravitasi begitu besar di kamarnya. Dibukanya pintu kamar sedikit sehingga hanya menampakkan kedua matanya saja yang sedikit memerah akibat kantuk. 

“Ditunggu di bawah, Mbak!” seru pembantu yang baru bekerja enam bulan itu. 

Livia hanya memberi isyarat lewat matanya, lalu menutup pintu kamar lagi, tepat di depan hidung perempuan berambut keriting yang habis diwarnai itu. 
Yanih hanya geleng-geleng kepala setelah latahnya hilang. 

Livia membuka pintu lemari lalu mengganti bajunya dengan kaus dan celana jeans pudar yang ia potong sebatas lutut. Ia melirik sekilas ke cermin, membuka cepolan rambut yang sudah berantakan, lalu mengoleskan pelembap ke bibirnya yang cenderung kering karena terlalu sering berada di ruang ber-AC. Setelah mematut-matut di depan cermin dan merasa puas, ia turun ke bawah. 

Ibunya langsung menyambut begitu ia sampai di anak tangga paling bawah. 

“Aih, cantiknya anak Mama!” Perempuan dengan dengan rambut hitam hasil semiran dimodel bob itu berjalan mendekati Livia, lalu pura-pura merapikan anak rambut yang jatuh di dahi sang anak. Sita mengenakan atasan warna putih model kebaya bermotif salur, dan bawahan celana pipa warna khaki. Livia berpikir Ini pasti acara yang sangat berarti untuk ibunya sampai sudi repot-repot berdandan untuk menyambut keluarga Arhan.  

Mereka sama-sama tersenyum aneh. 

“Kenapa pakai baju begitu?” Geraman di telinga Livia membuatnya memutar bola mata. 

Tuh kan! Mana pernah ibunya memuji-muji dirinya, entah karena wajahnya yang cantik atau karena prestasi akademiknya di sekolah dulu? Apalagi di depan orang lain! Ibunya selalu menyangkal setiap kali ada orang yang memuji kelebihan Livia. 
“Ah, dagunya terlalu lancip gitu,” sahutnya setiap kali ada orang yang memuji Livia cantik. Atau, 

“Tapi ia lemah di pelajaran ilmu pasti. Waktu SD dulu jarang sekali dapat angka delapan untuk pelajaran Matematika,” sangkal ibunya setiap kali ada orang yang memuji prestasi anaknya di sekolah. 

Dan pagi tadi Livia lupa mengecek, apakah matahari terbit dari barat, sampai perempuan bertahi lalat di dagu itu bertobat dan memuji-muji anak bungsunya ini setinggi langit untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu. 
*** 

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar