Kamis, 23 Maret 2017

In The Arm of An Angel Mother

Foto by Pinterest

Kaki kecil itu berlari menerobos hutan. Menentukan langkah kaki lewat cahaya bulan separo yang menerobos celah dedaunan. 
Bocah lelaki itu menemukan pohon besar kesayangan yang berlubang besar, lalu masuk ke dalamnya.  Kegelapan yang pekat menyambut sepasang mata kecil.  Bocah kecil itu memeluk lutut, menahan dingin, menyembunyikan tangis.
"Raihan .... " Sebuah suara lembut menyapa, membuatnya mengangkat wajah. Kegelapan dalam lubang di pohon besar perlahan sirna. Berganti sebuah ruangan luas yang terang dan begitu nyaman. 
"Hei, Raihan. Anak lelaki tidak boleh menangis." Seorang wanita cantik berpakaian serba putih, dengan sayap di punggung, menundukkan tubuh untuk menyamakan tinggi mereka, lalu tersenyum lembut. 
"Ibu ...." Raihan menghambur ke pelukannya. Merasakan kehangatan dekapan dan jemari yang mengusap rambutnya. 
"Apa lagi yang membuatmu bersedih, Sayang?" tanya perempuan itu sambil membelai rambut anak lelaki tersebut.
"Mereka melakukannya lagi, Bu. Padaku ...." Isak Raihan di balik pelukan sang ibu. Sesuatu merembes lagi di balik celananya. 
"Semalam mereka melakukannya berempat, Bu. Di belakang panti. Oh, Ibu ... Aku tidak mau bertemu mereka lagi. Aku takut, Bu ...." Anak lelaki bertubuh ringkih terisak-isak di pelukan sang ibu.
"Sayang, jangan bersedih. Ada Ibu di sini." Raihan menelusupkan wajah ke ketiak sang Ibu. Terasa hangat dan nyaman. Hanya ibu yang bisa ia ajak bicara. Hanya ibu yang menyayangi. Yang lainnya jahat! Apalagi bapak kepala panti. Ia selalu menghukum untuk sesuatu yang tidak pernah Raihan lakukan. 
Belakangan ini, bapak kepala panti selalu menghukum Raihan setiap malam. Membuat anak lelaki kurang gizi itu tidak mampu mengontrol lubang pembuangannya lagi. Raihan ingin bercerita, tapi pada siapa? Tidak ada yang akan percaya pada anak bisu seperti dirinya.
Karena itulah, tengah malam tadi, ia menyelinap, lari dari panti asuhan. Berlari menerobos pekatnya hutan dan malam, dengan kaki kecilnya yang ringkih. 
Tapi ia tidak dapat meninggalkan pohon kesayangan, tempat sang ibu berada ...
Raihan menatap wajah lembut perempuan bersayap putih di hadapannya. Tiara yang menghias dahinya terlihat begitu berkilauan. Membuat wajah lembut sang ibu semakin terlihat cantik.  
"Bu, bolehkah aku terus di sini? Bersama Ibu. Aku sangat takut pada mereka, Bu. Ajak aku pergi, Bu ...." Perempuan bersayap putih tersenyum mendengar ucapan Raihan. 
"Tentu Sayang. Ibu akan selalu menemanimu." Ia membawa Raihan ke dalam pelukannya lagi. "Sekarang tidurlah. Tidak ada yang akan mengganggumu lagi setelah ini, " lanjut perempuan itu sambil mengusap kepala Raihan yang berada dalam pelukan. Sayap sang ibu mengembang, lalu melingkupi tubuh Raihan. Bocah lelaki berumur lima tahun tersenyum dalam kantuknya.
Sementara di luar, beberapa lelaki berlari sambil membawa obor. 
"Kita harus bergerak cepat. Jika lahan ini hangus terbakar, orang itu akan menjual gedung pantinya dengan harga murah," perintah sang pemimpin sementara anak buahnya menyebar sambil menyiram bensin dan membakar ranting-ranting kering.
-oOo-





Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar