Rabu, 04 Januari 2017

Hilang (Radar Surabaya, 18 Desember 2016)



Oleh : Nuree Patria


Ini benar-benar tidak lucu! Darmo meradang. Sudah berjam-jam ia menyusuri salah satu mal di kotanya itu. Meneliti setiap pengunjung yang datang. Mencari-cari istri dan anaknya di antara kerumunan manusia. 
Siang tadi, seperti para penghuni kota lainnya, mereka menghabiskan waktu berjalan-jalan di mal. Ketika itu mereka sedang makan bersama di sebuah restoran. Ia sedang asyik dengan gadgetnya sementara sang istri sibuk menyuapi anak mereka yang tidak bisa diam. 
Perempuan itu sempat memanggil beberapa kali, tapi Darmo begitu sibuk dengan smartphonenya. Enggan menanggapi. Sementara anaknya berlari ke sana ke mari. Hampir menabrak pelayan yang membawa bergelas-gelas minuman di atas baki.
Lelaki itu hanya menegur. Membuat anak lelakinya terdiam untuk kemudian berulah kembali. Tapi Darmo sudah berkelana kembali ke dunia maya. 
Dan begitu mengangkat wajah, ia baru menyadari, hanya ia sendiri yang ada di meja itu. Istri dan anaknya menghilang. 
Menghilang. 
Iya, menghilang. Raib. Lenyap. Entah kemana. 
Mulanya Darmo berpikir mungkin istrinya mengantar anak mereka ke toilet. Ia menunggu sambil terus berseluncur di dunia maya. Tapi satu jam kemudian, mereka belum kembali juga. Lelaki itu mulai gusar, mencoba menelepon sang istri, namun tak ada jawaban. 
Darmo bertanya pada pelayan. Dan perempuan dengan banyak pensil di dalam kantung celemek hitamnya itu hanya mengatakan kalau kalau istri dan anaknya sudah keluar dari restoran sejak tadi.   
Bergegas ia keluar dan mulai menyusuri mal itu. Masih sibuk menelepon istrinya, meskipun sang operator mengatakan kalau nomor yang ia tuju berada di luar jangkauan. 
Lelaki itu menuju meja resepsionis. Pengumuman segera mengudara. Lama menunggu tetap sang istri tak muncul-muncul. Wajah Darmo kaku. 
Awas, kalau nanti ketemu! batinnya mengancam. 
Akhirnya Darmo menyerah dan berpikir tentang kemungkinan istrinya ngambek lalu pulang sendirian. Maka ia memutuskan kembali. Tapi begitu sampai, rumahnya masih terkunci rapat. 
Kemarahan lelaki itu menguap. Berganti gelisah. Ia memutuskan kembali ke mal lalu mencari mereka. 
Tak mempedulikan tatapan para resepsionis ketika ia kembali ke mal tadi dan meminta mereka membuat pengumuman lagi. 
Sebentuk pemikiran aneh menyelinap. Jangan-jangan istrinya diculik orang lalu dipaksa mengikuti suatu aliran. Ia pernah membaca berita tentang perempuan yang diculik, dicuci otak, lalu dipaksa mengikuti suatu aliran sesat atau bahkan diperdagangkan.  
Istrinya memang sudah tidak cantik lagi. Ia tidak peduli jika perempuan itu menghilang entah kemana. Tapi bagaimana nasib anaknya? Bocah empat tahun yang sedang lucu-lucunya itu. Yang foto dan kelakuannya sering ia pamerkan di sosial media. 
Darmo mengusap wajah, tidak sanggup memikirkan kemungkinan terburuk yang menimpa sang anak. Kepalanya langsung berdenyut nyeri.
Selama ini ia hanya mendengar tentang child trafficking. Tapi menurutnya itu hanya terjadi di belahan bumi sana. Sebuah tempat yang bahkan sulit dilafalkan oleh lidahnya.
Dan lelaki itu terlalu bangga pada anaknya. Ingin memamerkan pada semua orang. Kalau perlu seluruh dunia melihat betapa lucu dan menggemaskan tingkah anaknya itu. 
Gadis resepsionis menegurnya. Darmo baru menyadari, sudah dua jam lebih ia berdiri di depan meja operator. Ia tersenyum, mengucapkan terima kasih lalu bergegas pulang. Dengan perasaan yang begitu lelah.
***  
Darmo membuka pintu rumah dengan lesu. Dalam hati berharap istrinya sudah tiba, lalu memberikannya surprise. 
Tapi ini bukan tanggal istimewa untuk mereka. Tidak akan ada pesta kejutan.
Darmo menjatuhkan tubuh ke sofa.  Mengeluarkan ponsel lalu membuka akun sosmednya dengan tidak semangat. Pesan dari beberapa teman dan orang tidak dikenal. 
Ia sudah hapal dengan modus itu. Seorang warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri lalu meminta nomor rekening untuk mentransfer sejumlah uang warisan dari suami bulenya yang telah mati.
Jika isengnya kumat, bisa berjam-jam ia meladeni para penipu maya itu.  Namun kali ini hatinya terlalu resah. Ia memutuskan menutup ponselnya. Tapi Darmo mengambil kembali benda itu.  Bersiap menulis status tentang menghilangnya sang istri. 
Lelaki itu tercenung begitu lama. Ia sering berkomentar nyinyir di akun sosial media para tokoh politik atau selebritis atau tokoh terkenal lainnya. Membuli netizen lain ketika mempertahankan pendapat yang dirasa benar. 
Bahkan ia pernah saling berbalas pesan dengan orang tak dikenal, mengajak duel di dunia nyata untuk melanjutkan perseteruan mereka.
Ia punya beberapa musuh abadi di dunia itu--meskipun tidak pernah saling bertemu.   
Darmo mengembuskan napas. Mengapa sekarang hal itu terlihat begitu konyol dan aneh? 
Tidak. Ia tidak bica menceritakan kepada dunia kalau istri dan anaknya menghilang entah kemana. Itu akan terlihat sangat-sangat memalukan. Dan menyedihkan.  
Tidak ada yang ingin ia lakukan. Daftar notifikasi yang berderet pun tidak menggodanya untuk mengecek satu-persatu. Ia menutup akunnya, lalu membiarkan ponselnya teronggok di sudut kamar. Tidur tertelungkup. Menyandarkan keningnya di atas lengan dan jatuh tertidur. 
Darmo terbangun. Ia melirik sebelah tempat tidurnya. Masih kosong. Keluarganya benar-benar nyata menghilang. Ia tidak sedang bermimpi.
Darmo membalikkan tubuh, telentang menghadap langit-langit kamar dalam kegelapan. Tangannya terasa kebas dan kesemutan.  Ia melirik jam dinding dan menyadari kalau hari sudah berganti sejak beberapa jam lalu. 
Biasanya, di jam segini, istrinya sudah bangun. Sholat malam, lalu memulai pekerjaan rutinnya. Mula-mula mencuci baju sambil membersihkan rumah. Lalu menjelang subuh, ia akan menjerang air dan menyiapkan sarapan untuk mereka. 
Sementara dirinya? Biasanya ia akan bangun sekitar jam empat. Membuka akun sosmed lalu mengecek status atau time line teman-temannya. Kemudian mencari informasi atau gosip tak masuk akal lain di internet. Semakin aneh berita dan semakin banyak komentar di postingan berita itu akan semakin membuatnya penasaran. Lalu ia pun-- dengan sok tahu, akan ikut menambah panjang daftar komentar tersebut.  
Solat malam? Tentu saja ia melakukannya. Kadang-kadang. Ketika baterai kedua gadget kekiniannya tinggal 15 persen. Saat itulah ia ingat Tuhan. Ingat azan. Ingat sholat. Ingat sahur. Ingat puasanya tahun lalu yang belum lunas--padahal sang istri selalu mengingatkan sejak Syawal datang.  
Ah, ternyata ia kehilangan perempuan itu juga. Ia yang begitu sabar menghadapi ketidakpeduliannya. 
Akhirnya ia mengakui, Istrinya cantik. masih muda pula. Baru dua puluh enam. Masih ada lelaki yang senang menggodanya jika perempuan itu berjalan sendirian. 
Darmo merasakan perutnya kosong. Ia baru menyadari makan terakhirnya siang kemarin, yang berakhir dengan menghilangnya sang istri. Lelaki itu berjalan ke dapur, lalu mengambil dua bungkus mie instan dan telur. 
Mengaduk mie dalam panci sambil berpikir, alangkah sunyinya rumah ini tanpa perempuan itu. 
Darmo mengunyah mie instannya yang sudah matang. Buatan istrinya tidak sehambar ini. Entah apa yang ditambahkan perempuan itu. Ia tidak pernah memperhatikan karena begitu sibuk dengan smartphone selama di meja makan. Tidak mempedulikan cerita-cerita istrinya yang selalu menemaninya makan. Hanya menanggapi dengan ah-oh-ah-oh atau deheman tidak jelas.
Darmo meninggalkan mienya yang masih tersisa. 
Azan subuh. Darmo mengambil wudhu. Selain bulan puasa, baru kali ini ia bergegas sholat subuh tepat ketika kumandang azan. Biasanya harus menunggu matahari setengah muncul. Entah siapa yang ia sembah. Tuhannya atau matahari. 
Kali ini Darmo sholat dengan khusyuk. Meminta Tuhan memberikan petunjuk di mana istrinya berada. 
Lelah dalam doa dan pinta, ia menggulung sajadah lalu bersiap untuk bekerja.
Ah, mana bisa ia bekerja sementara pikirannya  selalu mencari sang istrinya yang entah berada dimana. 
Darmo membuka pintu. Hampir melupakan napas melihat seseorang berdiri di hadapannya. Perempuan itu  menggendong anak mereka. Ada taksi di depan rumah yang sedang mencoba putar balik.
Sebelum Darmo bersuara, istrinya berkata dengan muka masam, "Hidupmu itu di dunia nyata. Bukan di dunia maya!"
***


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar