Minggu, 20 November 2016

Bintang Untuk Kekasih

Foto by Google
Bagaimanalah kuceritakan tentang kekasihku. Aku jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. Ia gagah, tampan, digilai para gadis.

Sebenarnya bukan hanya itu kelebihannya. Tapi tiga hal itu saja sanggup membuatku bertekuk lutut padanya. Beruntung benar diriku yang biasa-biasa ini dapat bersanding dengannya. Memang sih ada beberapa orang yang mengatakan hal-hal buruk--tentang dia. Tapi manalah kupercaya omongan yang keluar dari mulut orang-orang  yang mencemburui kebersamaan kami. Apalagi Ia bilang mencintaiku apa adanya. Ia juga bilang ada bintang besar yang bersinar terang, yang kini tersimpan rapat dalam hatiku.

Sungguh, aku sangat mencintainya. Sampai suatu hari ia menatapku lekat-lekat dan mengatakan sesuatu yang membuatku tertegun.

"Bolehkah kuminta bintang dalam hatimu, Aura."

"U-untuk apa?" Tanyaku dengan senyum yang menggagap.

"Aku ingin seluruh dunia melihatnya."

"Ah, tak usah lah, Ay. Dunia tidak harus tahu tentang hal itu." Aku mengelak dengan manis meskipun tak percaya jika ada bintang dalam hatiku yang kecil ini. Tapi ia terus memaksa. Menatapku dengan mata elangnya yang dalam. Dan aku menyerah.
-oOo-

Aku duduk di bangku taman sementara ia berlutut di hadapanku. Pisau mulai ia tancapkan ke dadaku, menembus kemeja, kulit, daging, juga organku.

"Pisau yang tajam." Komentarku hanya dijawabnya dengan seulas senyum. Perlahan pisau itu mulai mengiris daging dada. Tapi rasa cintanya menjadi penghilang sakit.

"Berhasil! Aku menemukannya!" Aku tersenyum. Senang melihat kekasihku riang gembira seperti itu.

Ia memasukkan tangannya ke dalam lubang yang telah ia buat. Ada sebentuk perasaan aneh ketika pelan-pelan ia mengeluarkan hatiku. Tapi tak kuhiraukan karena keburu silau oleh seberkas sinar. Aku dan dia sama sama memalingkan wajah. Kekasihku buru-buru membungkus hati itu dengan selembar kain hitam. Tapi bintang dalam hatiku terlalu terang-benderang. Ia membungkusnya hingga berlapis-lapis lalu memasukkannya ke dalam kotak kayu hitam.

"Terima kasih, Aura." Aku tersenyum puas. Ia duduk di sebelahku sambil memeluk kotak hitamnya erat-erat. Aku terharu. Ia begitu menjaga hatiku dengan sungguh-sungguh. Tak terasa, kami berbincang-bincang hingga senja menguning.

"Hari telah sore. Sepertinya aku harus segera pulang."

Ia bangkit, lalu berjalan pergi. Membuatku mengernyitkan alis. Merasa ada yang janggal. Seharusnya tidak seperti ini bukan?

Seorang gadis menghampiri lelakiku. Ia tersenyum lalu menyerahkan kotak kayu berisi bintang dan hatiku. Gadis itu terkejut, tapi kemudian terlihat bahagia, menerima kotak tersebut  itu dan memeluk kekasihku. Mereka pergi menjauh sambil bergandengan tangan.
Aku tertegun. Tanpa sadar kuikuti mereka, tapi langsung terjatuh.

Aku tersenyum ketika lelakiku menoleh. Kupikir ia akan berlari menghampiri. Tapi nyatanya ia berbalik lagi lalu melanjutkan langkahnya bersama gadis itu. Rasa sakit mulai datang. Aku butuh obat penahan sakit. Sekarang.

Tanpa sadar kusentuh dada. Ada rongga di sana.

Aku menunduk, terlihat sebuah lubang yang besar di sana.

Kosong. Melompong. Dan terasa hampa ...

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar