Selasa, 06 September 2016

Sepasang Manik Mata


Bau yang mengengat di ruangan yang tertutup itu tidak membuat Matin tercekik. Ia sudah terbiasa bergelut dengan lilitan asap dupa dan kemenyan.

Darah ayam berbulu hitam telah ia tampung dalam sebuah gelas tanah liat. Lalu ayam itu ia biarkan terjengkang-jengkang di sudut ruangan menanti maut.

Dukun dengan jam terbang puluhan tahun itu membasahi keris pusaka dengan darah ayam. Mulai membisikinya dengan mantra sakti.

Diambilnya sebuah boneka lalu dicongkelnya mata boneka itu dengan keris pusaka. Matin lantas mencelupkan telunjuknya ke dalam darah ayam hitam, kemudian mengoleskan pada kedua mata boneka.

Dukun hitam itu menutupi mata boneka cantik dengan selembar kain hitam dan mendudukkan di hadapannya. Mulai konsentrasi membaca mantra lagi. Sesekali ia melempar sesajen di hadapannya lalu menyemburkan air sajen.

Setelah lelakunya selesai. Ia menghadapkan tangannya ke depan asap sisa pembakaran kemenyan. Diusapnya wajah dan rambutnya yang masih melegam.

Matin membuka kain hitam yang menutupi mata boneka itu. Tersenyum hingga kumisnya bergoyang.

Kini kedua lubang di wajah boneka itu telah terisi sepasang bola mata cokelat yang tampak hidup.

Selesai sudah dua pekerjaan sekaligus. Sepasang mata baru di boneka kesayangan sang cucu, juga pelampiasan dendam seorang tetangga jauh yang meminta pertolongannya.

Sementara itu di suatu rumah di desa sebelah, seorang anak kecil menangis sambil menutupi kedua matanya. Membuat sang bunda kebingungan.

"Sudah, Sayang. Jangan dikucak terus. Coba Mama lihat." Sang anak mengangkat wajah, ingin menunjukkan matanya. Tapi yang dilihat sang bunda hanya sebuah lubang hitam di tempat yang seharusnya berisi bola mata indah anak itu.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar