Sabtu, 23 Juli 2016

Pendar




Aku mengenalnya lewat pendar lampu jalanan suatu subuh. Ketika mengangkut butiran-butiran kelapa dengan sepedaku ke pasar.

Ketika itu, ia berusaha menghindar dari pukulan ayahnya. Langkahku tergerak hendak menolong, tapi urung kembali karena takut tindakanku malah semakin mempersulit keadaannya.

Gadis itu berhasil melepaskan diri lalu berlari ke arahku. Ia menatap sekilas, membuang muka dan terus berlari melewatiku.

Terus berlari di bawah pendar-pendar lampu jalanan. Sementara ayahnya yang mabuk terus merutuki dirinya.
-oOo-

Takdir. Itu kata hatiku ketika beberapa malam kemudian melihatnya di belakang warungku yang menghadap ke pantai.

Langkah pincangku mendekat padanya yang sedang duduk bergeming di atas bangku panjang reot yang menghadap laut.

"Sudah malam, tidak pulang, Neng?" Ia tersentak kaget ketika menyadari kehadiranku. Tatapan matanya  penuh waspada, tapi aku menyunggingkan seulas senyum rumpang.

"Tidak baik anak gadis pulang malam-malam," lanjutku.

"Sudah mau tutup, Kang?" tanya gadis itu sambil merapikan rambutnya yang diterpa angin laut.

Aku memperhatikan gadis  yang sedang mengikat rambut jadi satu itu. Membuatku menyadari bentuk wajahnya yang tidak simetris alias menyeng sebelah.

"Saya tinggal di dalam," jawabku tidak nyambung sambil menunjuk dengan ibu jari ke warung kecil beratap rumbia di belakang kami. Ia tidak menjawab. Hanya mendengus pelan lalu memandangi lepas pantai di seberang sana. Samar tercium bau bacin dari arah laut.

Aku duduk di sebelahnya. Menaikkan sebelah kaki dan mulai merokok. Suara ombak yang menggulung memecah hening di antara kami. Kulirik gadis di sebelahku yang sedang tercenung, lalu mengalihkan pandangan lagi pada kegelapan laut di depan sana.

Bangku yang kami duduki terasa bergoyang ketika ia bangkit lalu beranjak pergi tanpa pamit.

Kuperhatikan punggungnya yang semakin menjauh di antara pendar lampu bohlam dari warung-warung kecil yang berjejer di pinggir pantai.

Sejak saat itu aku sering melihatnya di sana. Aku mempelajari situasi agar ia tidak sampai terganggu lagi. Aku selalu menghampirinya bersama anakku yang mengalami keterbelakangan mental. Itulah alasan terbaik untuk menemuinya.

Lambat laun ia mulai menerima kehadiranku. Mungkin lebih tepatnya kehadiran anakku. Mereka suka bermain bersama. Kadang ia menghapus liur yang berlepetan di dagu anakku.
Berbicara panjang lebar seakan anak idiot itu mengerti setiap kata-katanya.

Aku tidak menyangka suatu bocah dunguku berguna juga.

Kami mulai berbagi kisah. Ia cerita kalau tinggal bersama ayah tirinya, yang selalu memukuli ia dan ibunya jika mabuk. Hingga suatu hari, sang ibu tidak terbangun lagi setelah lelaki itu membenturkan kepala perempuan malang tersebut ke tembok.

Lelaki itu lepas dari perkara setelah memaksa anaknya untuk mengakui kalau sang ibu jatuh terbentur setelah terpeleset di tangga.

Semua orang tahu itu tidak benar. Tapi tidak ada yang bisa membelanya.

Ia juga menceritakan mimpinya menikah dengan lelaki baik yang bekerja di pabrik pengalengan ikan, lalu pindah ke kota. Melepaskan diri dari lelaki pemabuk.

"Ayah tidak jahat," protesnya ketika aku mengomentari kisah hidup yang menyedihkan itu.

"Ayahku hanya seorang pemabuk. Dan kalau mabuk ia lupa segalanya."

Lalu aku bercerita kalau kakiku yang pincang memang cacat sejak lahir. Bukan kecelakaan yang membuat telapaknya sampai pengkor ke belakang.

Istriku adalah TKW di Arab Saudi dan sedang terancam hukuman mati karena mencuri dan membunuh majikannya.

Tinggal lah sang suami di sini bersama anak mereka yang cacat mental, yang setiap hari membaui bacin air laut.

Aku memandangi wajahnya yang tidak elok setiap ia bercerita.

Lehernya mendeklik ke dalam, sementara senyumnya terlihat seperti seringai yang menyeramkan dengan gigi-gigi besar yang berantakan. Jika diamati, ia terlihat menyeramkan. Tapi anakku menyukainya.

Kami selalu berkumpul bersama selepas magrib, layaknya sebuah keluarga yang menikmati malam di tepi pantai. Tidak kupedulikan kasak-kusuk tetangga menggunjingkan kami. Yang penting aku dan anakku bahagia. Juga dia, sepertinya.

Lalu suatu hari ia tidak datang lagi. Beberapa hari aku selalu menunggunya sampai tengah malam, sementara si kecil yang kecewa tertidur di pangkuan. Merasa ia tidak akan datang, akhirnya aku pulang dengan kecewa.

Berkali-kali anakku menanyakan gadis itu. Aku selalu bilang kalau ia sibuk bekerja, dan untungnya bocah itu mengerti. Ia tidak pernah menanyakan gadis itu lagi.

Anakku yang tahu diri, Ayah bangga padamu ...

Aku sudah hampir melupakan gadis itu, sampai suatu malam kulihat ia duduk tepekur di tempat biasa kami bercengkrama. Hatiku girang bukan kepalang, sebab awalnya kufikir dia hantu.

Aku menahan degup jantung, memperbaiki sikap dan berjalan mendekatinya.

"Lama tidak kelihatan, Neng," sapaku berbasa-basi. Dia hanya tersenyum datar. Aku pura-pura memilih beberapa kelapa di sebelah bangku yang ia duduki.

"Aku akan pergi, Kang." Tanganku yang sibuk memilih kayu bakar kaku seketika.

Aku kecewa. Mungkinkah ia sudah menemukan lelaki baik yang bekerja di pabrik pengalengan ikan?

"Ayah memaksaku menikah, untuk membayar hutangnya." Aku mengembuskan napas untuk menghilangkan sesak yang menggumpal. Bangkit dari tempat penyimpanan kelapa, lalu duduk di sebelahnya.

"Aku punya teman di kota. Dia bersedia menampungku selama beberapa lama. Katanya dia juga punya pekerjaan yang bagus. Dia bilang, tanpa kerja keras, uang akan mengalir ke kantongku. Ia tidak mengatakan jenis pekerjaan itu. Tapi setidaknya aku harus pergi dari sini dulu." Kutatap wajah menyeng yang tengah terpekur itu.

"Apa Neng pernah ke kota?" Ia masih termenung sebelum akhirnya menggeleng lemah.

Kami saling diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Kulirik gadis di sebelahku yang masih dalam heningnya.

"Me--Menikah sa--ja de--ngan Ak--kang." Terbata-bata kalimat itu keluar. Padahal aku sudah menyiapkan kata-kata tersebut sejak gadis di sebelahku pertama kali berkisah tentang hidupnya, tapi tetap saja suara ini bergetar ketika mengucap.

Aku memang penggugup. Dulu saja sampai tiga kali mengucapkan ijab kabul ketika menikahi istri.

"Daripada Neng mengharapkan kehidupan di kota yang tidak jelas. Lebih baik Neng bersama Akang di sini." Fiuh, bisa juga kuucapkan kalimat itu dengan lancar dan tenang.

"Istri Akang?" tanyanya seakan tertahan. Aku terdiam, menahan gumpal dalam dada.

"Tanggal lima bulan depan, ia akan dihukum pancung." Wajahnya mencelos nelangsa.

"Akang dan keluarga tidak bisa menyerahkan diyat yang diminta keluarga korban ..."

Dan di antara pendar lampu bohlam yang keriyap-keriyap, aku melihatnya menangis.
-oOo-

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar