Kamis, 14 April 2016

Labirin Jodoh (Islampos, Kamis 14 April 2016)

Foto by Google


Mata yang membasah itu menelusuri barisan huruf dalam mushaf bersampul merah. Hingga sampai pada sebuah kalimat.
Fa inna ma’al’usri yusraa … inna ma’al’usri yusraa …
Noura mengulang lagi. Meresapi tiap kata-kata itu. Tentang janji Tuhan akan kemudahan di balik setiap kesulitan. Dia menegaskannya hingga dua kali dalam surat ini.
Tatapan gadis berkelopak indah itu teralih pada Nissa yang masih menyelesaikan shalat dhuha, sementara pikirannnya menerawang mengingat telepon dari sang kakak kemarin malam, yang mengabarkan kondisi terakhir sang bunda.
“Keadaan ibu semakin payah. Entah, apa beliau dapat melihatmu menikah, seperti harapannya selama ini, Ra …. ” Ucapan sang kakak terus terngiang-ngiang di telinga gadis itu.
Noura meletakkan mushaf lalu memeluk lutut. Menyembunyikan tangis yang coba ditahan.
Ibu, selama ini aku selalu berusaha membahagiakan dirimu. Tapi maafkan anakmu ini, jika sampai sekarang, satu hal itu masih belum dapat kuwujudkan …
Kepala yang tertutup jilbab warna hijau itu terangkat. Matanya menerawang jauh.
Ya Allah, aku sudah berusaha menjadi perempuan baik, semaksimal yang aku mampu. Tapi rupanya Engkau masih belum berkenan memberikan pendamping hidup untukku …. Masih belum pantaskah aku, Allah? Noura meneguk ludah yang terasa pahit.
Sungguh, aku masih sanggup bersabar, karena aku tahu, semua itu ada dalam kuasa-Mu. Tapi bagaimana dengan orangtuaku? Sampai kapan mereka dapat bersabar? Sampai kapan mereka sanggup menunggu?
Allah, kasihanilah orangtuaku yang telah merenta. Yang begitu mengharapkan anaknya ini segera menikah ….
Gadis itu mengerjabkan kelopak agar air matanya tak tumpah.
Noura telah memimpikan menjadi seorang ibu sejak ia berumur empat tahun, ketika bermain rumah-rumahan bersama sang kakak, dulu. Tapi tiga puluh tahun telah berlalu, dan ia masih belum dapat mewujudkan mimpi masa kanak-kanak itu.
Telah lama ia berusaha menjadi seorang muslimah yang baik. Menutup rapat aurat, menjaga pandangan, memohon pada-Nya–hampir di setiap malam. Tapi mengapa jodoh masih enggan menyapa. Sementara, teman-temannya yang lain, begitu mudah mendapatkannya.
Allah, ini sungguh tidak adil … gugatnya dalam malam-malam panjang di atas sajadah basah.
Seseorang duduk di sebelahnya. Noura menoleh. Dilihatnya wajah letih Nissa yang masih mengenakan mukena. Gadis itu menyandarkan kepalanya ke tembok. Mata basahnya menerawang, memandang langit-langit mushola.
“Pantaskah kita mengeluh, sementara sejatinya hidup ini bukan milik kita sama sekali …. Pantaskah kita mengucap bosan menjalani hidup, padahal Allah ciptakan setiap makhluk semata hanya untuk beribadah kepada-Nya …” Bibir kering karena puasa itu melirih. Setetes air mengalir dari sudut mata.
Noura menatap gadis di sebelahnya lama.
“Nis …” Gadis itu menelan ucapannya kembali. Ia tahu, sesuatu yang buruk tengah terjadi pada sahabatnya yang selalu ceria.
“Orang tuanya tidak setuju, Ra. Bagaimanapun Abyan membujuk ….” Suara Nissa terdengar bergetar, padahal ia sudah menguatkan hati ketika hendak mengatakannya.
“Kenapa?” Gadis beralis tebal itu tak menjawab.
“Karena usia?” Hanya mampu mengangguk lemah.
Noura mengigit bibir. Usia Nissa tiga tahun lebih tua darinya. Beban itu pasti lebih terasa berat dalam tanggungannya.
Direngkuhnya sang sahabat ke dalam pelukan. Ia dapat merasakan bahunya yang perlahan basah.
Ingatan gadis itu melayang pada beberapa tahun lalu, ketika menemani Nissa menemui murabinya dan seorang lelaki di sebuah masjid agung. Setelah beberapa kali pertemuan, sang murabi malah menghubunginya. Mengatakan kalau lelaki berkacamata dengan senyum simpatik itu lebih memilih untuk bertaaruf dengannya.
Noura menghela napasnya yang terasa berat. Menggigit bibir kuat-kuat ketika mengingat penolakan yang dengan berat hati ia sampaikan.
Seandainya … Seandainya ia tidak mengenal Nissa … Seandainya ia yang lebih dulu bertemu lelaki yang telah hapal dua puluh juz Alquran itu, mungkin taaruf yang pada akhirnya menyakiti semua orang itu tidak akan pernah terjadi.
Lelaki itu pada akhirnya membatalkan taarufnya dengan Nissa. Membuat gadis berkulit langsat itu terpuruk berbulan-bulan. Tidak tahu mengapa sang calon imam idaman bersikap demikian.
Duhai kawan, jika kau bertemu para perempuan yang bernasib seperti kami, yang begitu lelah mencari belahan jiwa, yang begitu rindu, ingin menyempurnakan separuh agama seseorang, janganlah mengejek kami.
Percayalah, keadaan ini sudah cukup sulit untuk kami jalani. Beban ini sudah terlalu berat kami tanggung. Setiap hari penuh was-was menghitung umur yang berkurang dan dan kerut yang semakin bertambah. Menyadari setiap hari, semakin kecil kemungkinan untuk dapat melahirkan jundi-jundi kecil yang akan berjuang di jalan Allah.
Kalian harus tahu, bagaimana di sepertiga malam, kami hamparkan sajadah. Mengiba, merintih pilu, memohon belas kasih-Nya, agar berkenan memberikan pendamping hidup ….
Perlahan Nissa melepaskan pelukannya. Matanya yang memburam enggan menatap Noura.
“Mungkin Allah memang menakdirkan aku untuk hidup sendiri, Ra.” Noura menggenggam erat jemari sahabatnya. Menggeleng tidak setuju.
“Jangan bicara begitu, Nis.” Nissa tersenyum sedih.
“Lebih baik, aku melakukan hal lain yang lebih penting daripada terus menantikan jodoh. Toh hidup tidak sekedar tentang mencari pendamping hidup, bukan?” Mata cokelat Noura memandang gadis di hadapannya tanpa kata. Nissa melanjutkan kata-katanya lagi setelah beberapa lama hening di antara mereka.
“Kamu masih ingat bayi lelaki di panti asuhan yang tiga bulan lalu kita datangi? Kemarin aku menemuinya lagi, Ra. Sepertinya aku jatuh cinta padanya. Mungkin minggu depan aku akan cuti kerja dan mulai mengurus surat adopsinya.” Mata cokelat Noura masih terpaku pada Nissa sementara ingatannya melayang pada seorang bayi lelaki yang pernah ditemuinya.
Sebuah senyum teriris tulus.
“Bayi yang lucu. Kalau sudah dewasa ia pasti akan tampan sekali.”
“Ya, dan aku akan selalu menjadi mata untuknya. Selama yang ia inginkan.” Air mata mencelus tanpa sadar ketika Noura mengangguk sambil tersenyum.
“Kau tahu, Ra. Tidak pernah Allah ciptakan segala sesuatu sia-sia di dunia ini. Hanya kita saja yang terlalu banyak bertanya dan menggugat.” Noura tersenyum sambil melipat mukena untuk menyembunyikan tangisnya.
Bukan kita, Nis. Tapi aku … Aku yang terlalu lancang menggugat Allah.
Noura pernah berpikir, betapa teganya Allah membiarkan hatinya berdarah dalam malam-malam panjang di atas sajadah. Ia Melupakan hari-hari terakhir bapak, yang begitu bahagia bisa ditemani oleh puteri bungsunya. Melupakan rumah yang berhasil ia bangun, sehingga sang bunda tidak perlu pusing lagi memikirkan tentang uang kontrakan tiap bulan.
Ada banyak hal baik yang terlupakan, karena ia terlalu banyak menuntut Tuhan.
Kalimat istighfar yang keluar bersama helaan napas membuat hati terasa ringan. Seringan langkahnya meninggalkan tempat itu.
Di depan pintu mushola, mereka berpapasan dengan seorang lelaki. Kedua gadis menyingkir ke kiri, memberi jalan. Tapi lelaki itu mengikuti. Mereka menggeser tubuh ke kanan, lelaki berkemeja biru itu ikut menggeser. Noura yang berada di depan Nissa menatap lelaki itu jengkel.
Sepasang lesung pipi mengintip sedikit. Lelaki yang tampak lebih muda itu menghadapkan telapak tangannya ke arah mereka. Menyingkir ke pinggir dan memberikan jalan. Kedua gadis dalam balutan seragam warna hijau segera bergegas. Meninggalkan lelaki yang hanya tersenyum melihat kepergian mereka.
-oOo-
Pandangan Fathan langsung tertuju pada benda itu ketika kembali dari berwudhu. Mushaf warna merah yang terlihat kontras di antara tumpukan mukena putih.
Sepertinya itu punya salah satu dari mereka. Iya, dua kakak yang punya hobi curhat di dalam mushola tadi. Ia sering memperhatikan mereka yang berbisik lirih tiap selesai sholat dhuha di sini.
Lelaki dengan wajah yang masih basah oleh air wudhu itu membuka lembaran mushaf dan sampai pada surat Al-Insyirah.
Ia tidak menyadari seseorang sudah berdiri di depan mushola.
Fathan menoleh dan melihat gadis berwajah sendu, dengan kelopak mata lebar yang indah sedang menatapnya ragu-ragu.
Fathan segera menutup mushaf lalu mengembalikannya dengan malu-malu. Gadis yang sebelumnya terlihat sebal padanya itu malah tersenyum.
“Kalau mau pinjam, bawa saja dulu.”
-oOo-

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar