Selasa, 03 November 2015

Sembilan Saudara Ipar

Foto by Google


Di depan rumah terdengar suara tawa saudara-saudara ipar membicarakan sesuatu.

Aku tidak berani mendekat, jadi hanya diam di dapur. Sejak awal mereka memang enggan menerima kehadiranku. Mungkin karena aku hanya anak yatim-piatu yang hidup menumpang di rumah besar itu setelah menikah dengan saudara lelaki mereka.

Setiap hari aku mengerjakan pekerjaan rumah. Masak, cuci baju, ngepel, beres-beres rumah. Sampai membersihkan  kandang ayam.

Hampir sedikit waktuku beristirahat. Karena saudara ipar yang perempuan, yang berjumlah sembilan orang itu, malas membantu orangtuanya.

Yang mereka kerjakan hanya membicarakan keburukan orang lain dan menyindir. Aku belum pernah menemukan orang yang sindirannya tajam menusuk seperti mereka.

Contohnya, ketika kemarin selesai memasak dan merapikan rumah, aku makan di dapur karena sudah sangat lapar. Tapi Mpok Lastri, kakak ipar tertua menyindirku dari ruang tengah.

"Enak sekali si Sri itu--" Ia menyebut salah-satu adiknya. Suaranya sengaja dibesar-besarkan hingga terdengar sampai ke dapur yang jaraknya lumayan jauh.

" Makanan sudah matang, langsung makan deh. Hahaha. Lapar ni yee ... " Saudara-saudara iparku yang lain tertawa mengejek.

Tenggorokanku seakan menolak nasi yang sudah kukunyah. Aku berusaha menelan. Dibantu air, akhirnya nasiku tertelan juga.

Kulanjutkan makan ditemani sindir pedas mereka.

Ngomong-ngomong, aku baru ingat belum makan dari tadi. Aku memang jarang makan di rumah ini. Bagaimana mau makan kalau bersama nasi yang kutelan, harus kutelan juga sindiran saudara-saudara iparku.

Semoga saja bayi dalam perutku tidak kekurangan gizi ...

Kubuka rak makanan pelan-pelan, takut menimbulkan suara. Mataku mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan.

Kemarin aku sempat membuat kue donat. Malam-malam kuuleni sendiri adonan donat itu dan goreng sampai matang. Tapi esok paginya donat yang sudah sudah matang itu hilang entah kemana. Padahal belum satupun yang kucicipi.

Setelah merasa yakin saudara-saudara ipar tidak akan ke dapur aku langsung beraksi.

Aku menyendok nasi cepat-cepat sambil tolah-toleh ke pintu dapur, takut kepergok sedang mengambil makanan.

Kuambil ayam goreng sisa kemarin lalu mulai makan terburu-buru.

Antara lapar dan takut ketahuan, aku makan nasi dan ayam goreng itu dengan perasaan was-was sambil mengawasi pintu dapur. Aku bersembunyi di belakang rak piring.

Mungkin karena terburu-buru atau terlalu waspada dengan keadaan sekitar, aku tidak hati-hati. Tanpa sadar, aku tersedak tulang ayam. Tulang itu menyangkut di tenggorokan. Tidak bisa masuk atau pun keluar.

Aku meminum segelas air. Tulang ayam itu tidak mau turun juga.

Aku berlari ke kamar mandi. Berusaha memuntahkannya.

Tulang paha ayam yang besar itu berhasil keluar bersama makanan yang kumakan tadi.

Dan saudara- saudara iparku masih tertawa di ruang depan.
-oOo-

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar