Selasa, 03 November 2015

Peri Raqula Melawan Cahya


Foto by Google

Peri Raqula terbang melesat begitu cepat. Tubuh mungilnya dengan lincah menghindari dahan-dahan pepohonan di hutan. Matanya yang seterang kunang-kunang menatap awas pada ranting-ranting pohon. Ia harus terbang dengan konsentrasi penuh agar tidak menabrak pohon yang berjajar rapat. Ia juga harus berburu dengan waktu. Sosok peri seperti dirinya tidak boleh berteman dengan cahaya. Ia harus tiba di kampung peri sebelum pagi datang.


Raqula meraba buntalan di tangannya untuk menenangkan diri. Dan ia tersenyum puas. Yes. Setelah ini, para peri dewasa tidak akan ada lagi yang mengatakan Raqula sebagai peri setengah matang. Dengan sedikit mantra dan tambahan ramuan dari tabib peri yang ia temui di pasar penyihir, ia akan menjadi peri dewasa. Sesuatu yang sangat Raqula idam-idamkan.

Kalau sudah jadi peri dewasa, ia akan diizinkan mengikuti ujian kenaikan tingkat peri. Jika lulus, maka ia akan mendapat sertifikat peri penyihir, dan mendapat gelar peri penyihir magang selama dua ratus tahun. Lalu setelah itu ia resmi menjadi peri penyihir. Yang paling dinanti Raqula jika sudah jadi peri penyihir ialah, ia bisa sesuka hati mengganti corak sayapnya yang menurut Raqula sangat norak.

Bahkan yang lebih keren, jika sudah menjadi penyihir peri nanti, ia akan mendapatkan kartu member klub penyihir elit tanpa batas. Apalagi jika bisa menjadi member kehormatan. Wuah, dia pasti bisa berkawan dengan bala tentara peri penyihir yang jadi idola di kampung peri.
***

Sebenarnya, pada mulanya ia tidak terlalu peduli ketika para peri membicarakan tentang pohon berbunga ajaib itu. Ia baru tertarik ketika mendengar kalau siapa pun yang bisa memetik dan memakannya, maka akan menjadi peri pilihan.

Pohon ajaib itu tumbuh di tepi jurang yang sangat dalam. Raqula menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menemukannya.

Berkat bantuan para liliput sahabatnya yang suka bersembunyi di balik pohon besar, Raqula berhasil memetik bunga pohon ajaib itu.

"Ternyata mudah memetiknya," sahut peri mungil yang sayapnya terus mengepak itu sambil memasukkan bunga yang telah mekar ke dalam buntalan.

"Kau jangan senang dulu, Raqula," tukas Momoki sang tetua liliput yang tubuhnya seperti kentang, sambil mendongak menatap Raqula.

"Biasanya sangat sulit menemukan bunga itu."

"Ah, kau ini, Momoki." Raqula mendelik sebal.

"Ini semua berkat keberuntunganku," sahutnya jumawa. Momoki hanya menggeleng melihat sikap sombong Raqula.
***

Dan kini Raqula menyesali kata-katanya tadi. Seharusnya ia mengikuti kata-kata Momoki untuk bermalam di desa liliput. Karena sekarang ia terlihat hilang arah. Setiap kali ia terbang, ia selalu kembali ke tempat yang sama.

Peri dengan rambut merah muda berkepang itu mulai frustasi. Ia tidak berhasil menemukan jalan keluar dari hutan.

Raqula berusaha menenangkan diri. Mungkin jika hatinya tenang, ia bisa menemukan jalan keluar dari hutan ini.

Seberkas cahaya menembus melalu celah-celah daun. Konsentrasi Raqula terpecah. Perutnya menabrak sebuah dahan, membuatnya tersangkut dan buntalannya terlepas. Ia segera terbang merendah, menghampiri buntalan cokelat itu.

"Oh tidak!" pekiknya ketika ikatan buntalan itu ternyata telah terlepas dan serbuk-serbuk berwarna keemasan bertebaran keluar.

Raqula berusaha menangkapnya, tapi sia-sia. Serbuk keemasan itu perlahan menguap dan hilang menjadi debu. Ia memekik ketika serbuk yang terakhir lenyap. Hutan itu perlahan mulai terang. Raqula menatap tubuhnya sendiri. Ia merasa sayapnya menjadi begitu berat.

Peri kecil Raqula kini terlihat menyedihkan. Rambut merah-mudanya yang terjalin rapi, kini telah tergerai dan berubah warna menjadi putih. Sayapnya pun kini telah lusuh dan terkoyak.

Raqula memandang telapak tangannya yang mulai tembus pandang. Cahaya pagi mulai menguapkannya.

Peri mungil malang menangis menyesali diri seiring tubuhnya yang mulai menghilang.
-oOo-

Reaksi:

3 komentar: