Selasa, 03 November 2015

Penerbangan Pertama

Foto by Google



This is my first flight . Aku, si penakut ketinggian, terhasut bisikan-bisikan ghaib yang menawarkan keindahan di suatu tempat tak dikenal. Membuatku nekad membelah angkasa dan menyeberangi lautan.

Aku sangat gugup. Meskipun duduk di tengah dan diapit kedua teman cowok, tetap saja deg-degan . Lirik kiri-kanan, mereka terlihat santai saja. Di deretan sebelah, kedua teman perempuanku asyik mengobrol. Kenapa aku malah terdampar di antara kedua makhluk dekil ini di penerbangan pertamaku? 

Ah, sudahlah. Lebih baik kubuang pandangan pada mas pramugara yang tersenyum ramah pada setiap penumpang sambil memperagakan cara-cara penyelamatan diri dalam keadaan darurat. Lumayan, buat cuci mata. Sayang bangku di pesawat tinggi-tinggi sehingga aku harus menjulurkan leher agar bisa lebih leluasa menonton aksi mas pramugara.

Petugas maskapai penerbangan mengingatkan kalau pesawat akan lepas landas, para penumpang diminta duduk di tempat dan memakai sabuk keselamatan. Aku buru-buru memasang sabuk pengaman. Ups, terlalu kencang, kukendorkan sedikit dan menghirup napas dalam-dalam. Teman di sebelah kananku juga terlihat sedikit gugup. Fiuh, ternyata bukan aku saja yang gugup di penerbangan pertama ini.

Berulang kali aku mengecek sabuk pengaman dan mengencangkannya. Kan tidak lucu kalau pas pesawat meluncur, tahu-tahu aku terguling ke belakang.

Aku menahan napas dan memejamkan mata kuat-kuat ketika pesawat lepas landas. Rasanya tidak sekstrim di pelajaran mengarang bahasa indonesia ketika SD dulu. Rasanya hanya seperti naik rollercoaster kecil di Dufan, tapi suara mesin pesawat yang menggerung-gerung membuatku was-was.

 Tidak lama pesawat sudah mengudara. Para penumpang dipersilahkan membuka sabuk pengaman. Setelah memastikan penumpang lainnya membuka sabuk keselamatan, baru kuberanikan diri membukanya juga. Teman di sebelah kananku yang tadi terlihat gugup pergi ke toilet.

Di bawah sana, rumah-rumah penduduk yang berhimpitan terlihat mengecil. Siapa tahu pesawat melewati daerah rumahku. Kan aku bisa teriak dari atas pesawat ke para tetangga yang sedang menjemur baju.
"Yuhuuuu, I'm coming, Singaporeee! ..."

Rumah-rumah sudah tidak terlihat. Sekarang kami melintas di atas laut. Aku celingukan, kulihat orang-orang menikmati perjalanan mereka. Temanku yang satu lagi mengaktifkan handphone, padahal tadi kata petugas maskapai, segala alat telekomunikasi harus dimatikan. Aku sampai mencabut baterai handphone untuk memastikan dia tidak akan menyala sepanjang perjalanan.

Aku mulai parno karena katanya alat telekomunikasi bisa mengganggu sinyal radar pesawat. Aku berdoa dalam hati. Menyesal tidak bawa Alquran saku. Siapa tahu aku bisa mengkhatamkan Alquran 30 juz selama perjalanan ini.

Pesawat berguncang kecil. Aku pernah diberitahu Mak yang pernah pergi haji, jika pesawat memang akan berguncang jika melewati awan.

Waoww, melewati awan. Aku takjub memperhatikan awan tipis yang melayang di luar sana. Ingin rasanya memecahkan jendela pesawat agar bisa menyentuh sejumput awan lalu kubawa pulang. Aku langsung lupa tentang alat telekomunikasi yang dapat mengganggu sinyal radar pesawat, yang sempat membuat parno.

Pandanganku beralih ke bawah. Sejauh mata memandang yang tampak hanya laut. Laut yang biru. Kutengok ke atas, yang tampak adalah langit biru. Mendadak aku pusing. Serasa tidak berpijak di bumi (padahal memang sedang tidak menginjak bumi). Rasanya semua sama, biruuu semua. Aku tidak bisa membedakan mana langit mana daratan. Belum lagi cahaya matahari yang menyilaukan mata.

Aku khawatir pak pilot mengalami hal yang sama. Oh tidak, aku pasti tidak akan bisa merasakan jika pesawat jungkir balik di angkasa karena bumi dan langit terlihat sama di mataku.

Lalu pesawat naik lebih tinggi lagi. Aku yang semakin ketakutan hanya bisa berdoa dalam hati.

Sepertinya orang yang phobia ketinggian tidak cocok naik pesawat. Harusnya aku ikuti saran teman-teman untuk minum ctm sebelum berangkat tadi, biar bisa tidur terus sepanjang perjalanan.

Kulihat teman seperjalananku di kiri dan kanan. Mereka mulai tertidur. Entah tidur sungguhan atau hanya pura-pura. Aku mencoba memejamkan mata, tapi mata ini selalu langsung terbuka jika merasakan sedikit guncangan dan bunyi mesin pesawat.

Lalu terdengar bunyi peringatan. Pramugari memberitahu jika akan melewati badai, maka para penumpang diminta kembali ke kursi dan memakai sabuk pengaman kembali.

Aku mengencangkan sabuk pengaman lagi. Dan benar saja. Tidak lama pesawat oleng ke kiri dan ke kanan. Aku beristighfar setiap pesawat oleng.

Para ibu-ibu juga mengaduh setiap pesawat bergoyang. Aku semakin stres menghadapi perjalanan ini. Lirik teman-teman, mereka  semua asyik tertidur. Tidak sepertiku yang meratapi nasib bersama para penumpang ibu-ibu. Goyangan di pesawat semakin membuat mereka terlena di alam mimpi.  Mungkin akupun akan tertidur jika tidak ingat sedang menggantung terombang-ambing  di angkasa.

Untunglah badai akhirnya berlalu. Pesawat tenang kembali. Aku bersyukur. Dan temanku tetap asyik tertidur seolah tidak menyadari badai yang barusan lewat. Aku kembali bernapas lega, lalu mencoba memejamkan mata. Tapi tidak lama hidungku mencium sesuatu.

Ugh, bau apa ini? Seperti bau terbakar. Aku celingukan sambil mengendus-endus, tapi penumpang lain terlihat tenang-tenang saja. Apakah hanya aku yang mencium bau ini? Aku harus memberitahu pak pilot tentang bau ini.

Tapi sebelum aku melakukan hal yang aneh, temanku bergumam lirih dengan mata tertutup.

"Kebakaran hutan nih. Baunya sampai ke sini." Aku cengok sebentar, kemudian teringat,  Sebelum pergi aku memang sempat membaca berita kalau sedang terjadi kebakaran hutan di Riau.

Aku tenang kembali, seperti teman di kiri dan kananku yang tidur.  Aku memejamkan mata meskipun tidak bisa tidur, tapi tidak sampai semenit aku sudah melek sambil memandang ke luar jendela pesawat. Selain cemas dengan posisiku yang menggantung di angkasa, aku pun sebenarnya  tidak ingin melewatkan pemandangan indah dari balik jendela pesawat. Meskipun untuk melihatnya diperlukan sedikit keberanian.

Pramugari mengatakan kalau sebentar lagi pesawat anak mendarat. Aku segera mengencangkan sabuk keselamatan lagi sebelum pramugari menyelesaikan kata-katanya dari pengeras suara.

Aku menunggu pesawat turun, tapi kok kurasakan pesawat hanya diam mengambang di angkasa. Tidak maju juga tidak mundur. Aku parno kembali. Apakah ada masalah lagi? Apakah bandara dibajak? Apakah pesawat kami tidak mendapat izin mendarat? (kebanyakan nonton film barat).

Lalu kurasakan pesawat mulai meluncur turun dengan indahnya. Ah, aku selamat juga ….

 Thanks God, masih bisa menginjak tanah.

Aku merasa bagai pelaut yang yang sudah setahun tidak melihat daratan ….
-oOo-

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar