Selasa, 03 November 2015

Max 8

Foto by Google


Aku maju ke depan kelas ketika guru Fisika memanggil. Ia menatap dari balik kacamatanya. Tersenyum, lalu menyerahkan kertas ulangan.

Aku membalas senyum sewajarnya. Menarik kertas ulangan tanpa melihat lagi. Kalau  diladeni, nanti dia bisa kegeeran. Diam-diam mencari nomor hapeku lalu menelepon setiap malam hanya untuk mencurhati isterinya yang pulang ke rumah ortu.

Lalu ujung-ujungnya dia bilang suka, maksa untuk jadi pacar atau nilai Fisikaku bakal dibuat terbakar.

Aku melipat kertas ulangan tanpa melihat hasil koreksi Pak Herry seperti teman-teman yang lain.

"Ke kantin, yuk." Elsa mengapit lenganku. Aku memasukkan kertas ulangan ke dalam tas selempang yang bersebelahan dengan ransel pink lalu mengikutinya. Yang sudah dapat hasil ulangan diperbolehkan untuk istirahat.

"Dapat nilai berapa?" tanyaku yang berjalan di sebelah kanan Elsa.

"Sembilan setengah. Padahal yang satu soal salah total." Teman sebangku sekaligus sahabat curhatku itu terkikik. Aku berdecak kagum.

Elsa mengayunkan tangan kami yang bergandengan seperti anak kecil.

"Dulu aku pernah minta putus, Pak Herry langsung bikin merah raportku."

"Iya, aku tahu. Makanya kamu balikan lagi kan sama dia."

"Yah, mau gimana lagi. Aku harus memanfaatkannya semaksimal mungkin untuk dongkrak nilai." Elsa mengibaskan rambut lurus sepunggungnya.

"Kalau ada nilai di bawah delapan aku bisa kehilangan beasiswa."

Setelah sampai di kantin kami mengambil teh botol, lalu duduk di pojokan sebelum keduluan anak dari kelas lain.

" Eh iya, Hana, berapa nilai ulanganmu tadi?" Aku tersenyum nakal.

"Delapan ketawa."

Dan kami pun terkikik di antara para siswa yang menyerbu kantin.
-oOo-

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar