Senin, 02 November 2015

Liburan Ke Rumah Nenek

Foto by Google



Dua puluh dua tahun yang lalu, seorang Ayah bersama anak perempuannya berlari di bawah hujan yang telah merintik. Berbaur bersama pasangan-pasangan remaja yang sedang menikmati hari libur.

Para remaja itu terlihat bahagia bersama teman atau pasangannya di antara gerimis yang turun, sementara si gadis kecil menggigil kedinginan. Ia merapatkan tubuhnya yang sudah basah pada sang ayah. Berharap mendapat sedikit kehangatan. Tapi lelaki muda bertubuh kurus itu tidak mengacuhkan. Ia sedang berusaha menyelamatkan sesuatu di balik jaket buluknya agar tidak kebasahan.

Mereka makin mempercepat langkah begitu melihat sebuah rumah besar. Gadis kecil yang sama kurus dengan ayahnya bernapas lega menemukan tempat bernanung untuk berlindung dari titik-titik hujan yang tajam menusuk wajah dan tubuh.  Mereka mengucapkan salam. Lelaki itu membuka sandal diikuti sang anak.

Pintu terbuka lebar. Orang-orang di dalam rumah memandang seolah mereka orang asing yang salah alamat.

Hari itu adalah hari libur terakhir. Banyak orang berkumpul di rumah besar tersebut untuk menghabiskan liburan panjang. Sebagian merengut melihat kedatangan mereka.

Setelah duduk dan berbasa-basi, ayah mengeluarkan sesuatu yang tadi disembunyikan di balik jaketnya. Dua kain jarik baru dalam plastik yang terkena cipratan air hujan.

"Saya mau jual ini, Mak." Sang ayah berkata memulai pembicaraan. Jemari kurusnya menghapus air yang menciprati plastik kain itu.

Gadis kecil berambut ombak memperhatikan ayah yang berbicara di sampingnya. Ia menoleh ketika seorang lelaki mengambil kain itu, mengeluarkannya, lalu meneliti. Mungkin takut kalau-kalau kainnya bolong.

"Baru nih?" Tanya adik ayahnya itu tidak yakin.

"Iya, baru itu, Wan." Lelaki perlente itu terus meneliti kain satu persatu. Membuka lipatannya lalu menerawang di bawah lampu dengan tampang mengejek. Atau mungkin memang tampangnya yang seperti itu? pikir si gadis kecil.

Sang Ibu masuk ke kamar setelah berhasil menawar lalu memberikan uang pada anaknya.

"Kalau bisa, jangan menyusahkan kami terus. Kamu kan tahu adik- adikmu masih banyak." Gadis kecil memperhatikan ayahnya yang menunduk.

"Iya, Mak, saya tahu. Terima kasih," sahut lelaki itu sambil meraih lembaran uang di meja tanpa mengangkat wajah.

"Emak tidak bisa bantu kamu lagi, Den. Kemarin saja biaya operasi ginjalmu sampai dua juta."

Kepala gadis kecil bergerak-gerak mengikuti suara orang-orang yang berbicara.

"Ya sudah, kasih dulu anakmu minum. Sudah kedinginan dia." Kata nenek yang baru menyadari kalau ternyata sang cucu juga ikut menemani ayahnya. Lalu perempuan tua bergaya ningrat masuk ke dalam kamar tanpa menegur cucu pertamanya itu.

Si anak perempuan  meraih gelas yang disodorkan padanya dengan tangan gemetar karena kedinginan, lalu menghabiskan air putih yang dingin itu.

Mungkin mereka tidak mau repot menyiapkan secangkir teh atau susu hangat untuk ayah dan gadis kecil yang sedang menahan dingin dan lapar.

Sebelum pulang sang nenek memanggil mereka.

" Ini ada sisa sedekah." Gadis kecil itu memperhatikan selembar uang sepuluh ribu yang diterima ayahnya.

Uang sisa sedekah dari nenek tercinta di hari libur ...
-oOo-

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar