Jumat, 16 Oktober 2015

Pasung


Aku duduk di hadapan wanita tanpa ekspresi itu.  Wanita yang ketika muda pernah menjadi idaman banyak lelaki di kampungnya kini terlihat begitu kotor dan mengenaskan.

Ia tidak berkenan menatapku barang sejenak pun. Tatapan matanya kosong menerawang. 

Entah apa yang ia pandangi.

Entah apa yang ia pikirkan.

Aku melirik rantai yang membelenggu kaki dan tangannya. Hatiku sakit melihat wanita yang telah melahirkanku dengan susah payah diikat sedemikian rupa. 

"Ayah, tidak bisakah rantainya dilepas. Ibu bukan seekor binatang." Suaraku tersendat menahan tangis. Kurasakan tangan yang mengusap lembut bahuku, berusaha menenangkan, tapi tangisku malah meledak.
Aku tersuruk di pangkuan ibu, menangis tersedu-sedu seperti waktu kecil dulu ketika habis diganggu teman. Tapi sekarang tidak kurasakan tangan lembut yang membelai rambutku. Aku semakin merasa terpuruk.

"Kalau rantainya dilepas, ibumu bisa membunuh orang."Sahut ayah dengan suara bergetar. Ia menepuk-nepuk bahuku lagi. Aku terdiam lama, membiarkan sedu-sedan terlolos satu-satu.  Lalu dengan kasar kutepiskan tangan ayah.

"Semua ini gara-gara Ayah!" teriakku menyalahkannya. Kuusap airmata dan ingus di wajah  dengan kasar.

Beberapa tahun yang lalu ayahku mendekati seorang janda di kampung sebelah, bahkan berniat menikahinya. Untunglah hal itu tidak sampai terjadi karena aku dan ibu keburu melabrak perempuan itu. Membuatnya menanggung malu di hadapan para tetua kampung hingga akhirnya perempuan penyanyi dangdut keliling itu menyingkir dari kampung. Aku dan ibu bersorak menyambut ayah kembali, merayakan kekalahan perempuan tidak tahu malu itu. 

Tapi beberapa kemudian, perempuanku mulai sering termenung. Bila diajak bicara tidak nyambung dan tidak fokus dengan pekerjaannya. Para tetangga bilang, mungkin ibu kena guna-guna dari perempuan itu.

Semua tabib dan dukun di seluruh kampung sudah kami datangi, tapi tidak ada hasil sama sekali. Ibu malah jadi sering menyerang orang-orang yang lewat di depan rumah. Ketika itu aku sudah menikah dengan Iwan dan tinggal terpisah dari orangtua, sehingga tidak bisa mengawasinya.

Keadaan ibu sedikit banyak mempengaruhi hubunganku dengan suami. Kami sering bertengkar jika mulai mengungkit keadaan ibu. Tidak bisa kubiarkan seorang pun menghina wanita yang telah melahirkanku. Akhirnya kucerai Iwan dengan talak tiga.

Aku mensyukuri perceraianku, karena dengan begitu, aku bisa kembali ke rumah dan mulai mengurus ibu. Tapi yang kulihat malah keadaannya yang semakin menyedihkan.

"Maafkan Ayah, Ida." Kutatap mata tua berwarna kelabu yang penuh kepedihan dan penyesalan itu. Wajah tuanya terlihat letih menanggung derita. Aku meluluh. Sekarang bukan saatnya menyalahkan ayah. Seharusnya kami bersatu menyembuhkan ibu. Dengan cinta dan kasih sayang kami. 
-oOo-

"Boleh kuminta kunci rantainya," pintaku sambil menyeka wajah ibu dengan handuk yang dibasahi air hangat.

"Kau akan menyesal membuka rantainya, Ida. Butuh tujuh lelaki untuk mengalahkannya jika ia sudah kumat.

"Aku yang akan menjaganya sekarang." Ayah terdiam. Setelah kudesak dengan setengah mengancam, perlahan ia merogoh saku kemeja batiknya yang sudah pudar. Lalu menyerahkan serenceng kunci. Aku menerimanya dengan jumawa.

"Nanti jika ibumu mengamuk, baru kau menyesal, Ida," keluh lelaki tua ringkih itu
 sambil berlalu meninggalkanku.

Tidak ayah, kau salah. Lihatlah ibu sekarang. Setelah kedatanganku, ibu mulai berangsur membaik. Matanya mulai fokus memandang. Iapun mulai sadar dengan lingkungannya. 
Mula-mula aku membuka kunci rantainya dan membiarkan ibu berkeliaran di rumah. Kadang ia suka duduk-duduk di depan rumah, memperhatikan orang yang lewat. Membalas sapaan orang-orang yang menyapanya. 

Setelah aku yakin ibuku tidak akan mengamuk lagi, aku membuang semua kunci rantai ibu.
-oOo-

"Ibu, Ida pulang." Kutaruh belanjaanku di dapur sambil mencari ibu. 

Aneh, kemana dia? Tidak mungkin kan ibu kumat dan menyerang orang-orang. Kalau itu terjadi, pasti sudah ramai di kampungku ini.
Atau mungkin ibu jalan-jalan keluar rumah. Bersama ayah. 

Samar tercium bau amis yang makin lama makin kuat. Kucari sumber bau meskipun ingin muntah. Mungkin bau kulit udang yang lupa kubuang. Aku beranjak pergi dari dapur, dan bau itu semakin kuat.

Bau amis darah meruak tajam dari dalam kamar. Kubuka pintu kamar perlahan. Kulihat ibu sedang duduk di lantai sambil memotong-motong daging dengan sebilah golok. Cairan merah pekat membanjiri lantai kamar. Dari sanakah bau ini berasal? 

Ibu melemparkan sesuatu ke pintu kamar. Benda itu menggelinding lalu berhenti di depan kamar. Kulihat kepala ayah yang sudah terputus. Menatapku dengan mata membelalak.  

Tubuhku bergetar hebat. Dengan panik aku berlari ke dapur. Kuambil dua pisau dapur, lalu berlari ke kamar lagi.

"Setan!!! Mati kau!!! " teriakku sambil menyerbu dan menusukkan pisau di kedua tanganku ke tubuh ibu dengan membabi-buta.
-oOo-

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar