Kamis, 15 Oktober 2015

Mainan Replika

Indi menarik-narik tangan kakaknya.

"Ayo, Kak, sudah lapar nih," rengeknya manja. Ganesh menoleh sekilas lalu sibuk kembali dengan mainan  di hadapannya.

Anak perempuan kecil dengan ikat rambut warna-warni itu melirik sesuatu yang dipegang kakaknya. Sebuah mainan berbentuk telur yang di dalamnya berisi organ tubuh manusia yang terbuat dari karet atau silikon, atau apapun namanya. Yang jelas replika itu sangat mirip dengan aslinya.

Ganesh sudah mempunyai banyak koleksi. Ada potongan telinga, jari, dan jempol kaki. Jika dilihat sekilas mainan itu seperti bagian tubuh manusia yang habis dimutilasi, dengan sedikit percikan darah yang menempel.

"Kak, cepetan, sudah sore nih. Nanti ibu nyariin kita," rengek Indi kembali.  Ganesh mendecak sebal. Ia mengeluarkan seribu dari saku celana lalu asal memilih sebutir telur. Kemudian ia meninggalkan penjual mainan yang sudah renta itu sambil menarik tangan adiknya.
 
"Indi ngga seru nih." Indi memperhatikan kakaknya yang bersungut-sungut. 

"Beli mainan mulu, nanti Indi bilangin ibu lho," ancam murid kelas satu SD itu, tetapi Ganesh tidak menghiraukan. Ia membuka telur dan langsung  mengeluh kecewa begitu melihat isinya.

"Yah, ini mah Kakak sudah punya. Indi sih, buru-buru aja." Ganesh menunjukkan Sepotong mainan berbentuk telinga hasil mutilasi. Indi mengambil dari tangan kakaknya.

Mulanya ia memang takut dengan mainan itu. Tapi lama-lama jadi terbiasa juga karena Ganesh sering memamerkan koleksinya. Bahkan ia suka melempari sang adik jika isengnya sedang kumat. Lama-lama Indi jadi terbiasa dengan mainan replika itu.

"Kayak betulan ya." Gumam Indi sambil mencubit-cubitnya.

"Buat Indi aja lah." Celetuk Ganesh.

"Ih, ngga mau lah. Indi ngga suka beginian. Kalo dikasih cokelat, baru mau," sahutnya dengan gaya manja sambil menyerahkan lagi mainan itu. Ia berjalan sambil sesekali melompat kecil dengan riang, seperti bermain taplak.  membuat kuncir kudanya ikut berayun. 

 Anak lelaki bertubuh gemuk itu mengeluarkan sekantung permen warna-warni dari saku seragam. Dibukanya bungkusan lalu dimasukkan sebagian permen cicak ke dalam mulut.

"Eh, teman Indi yang hilang itu sudah ketemu?" Tanya Ganesh dengan mulut penuh permen cicak lalu menawarkan pada adiknya.
"Ngga tahu," sahut anak perempuan itu sambil ikut memasukkan sebagian permen cicak ke dalam mulut.

"Makanya kamu jangan main jauh-jauh. Kalau pulang sekolah, jangan mampir-mampir. Nanti diculik orang lho." Ganesh sok menasehati adiknya sambil mengusap-usap kepalanya. Kebiasaan baru sejak kepalanya yang habis digundul mulai ditumbuhi rambut.

"Iyalah, kan Indi pulangnya sama Kak Ganesh terus. Kasihan lho Kak, mamanya kayak orang gila. Saudaranya yang di India sampe pada ke mari buat bantu nyariin dia."

"Eh, cepetan yuk jalannya. Kemarin kan ayah bilang mau bawain robot-robotan untuk Kakak." Ganesh melupakan pembicaraan mereka sebelumnya ketika teringat mainan baru yang dijanjikan ayah mereka.  Ia berlari mendahului.

"Eh, Kakak, tungguin!" Indi membetulkan tas ranselnya yang melorot lalu berlari mengejar.
-oOo-

Seorang lelaki berjalan sambil memanggul sebilah kayu yang dikaitkan pada dua kotak dagangannya. Kaki tuanya mantap melangkah sementara barang  dagangan yang berisi mainan dan snack anak sekolah ikut bergoyang seiring langkah kaki.  

Lelaki renta bertubuh kurus kecil dengan celana cingkrang dan bertopi caping itu menyusuri jalan yang sepi hingga sampai di tempat tinggalnya. Sebuah rumah mirip gubuk yang begitu jauh dan terpencil. Ia harus berjalan sekitar satu jam untuk sampai di pemukiman terdekat.

Sunarwi memasukkan dagangannya ke dalam rumah. Tidak ada yang menyambut karena ia tinggal sendirian. Lelaki itu tidak pernah menikah dan mempunyai anak, pun tidak memiliki saudara di kota itu.

Cahaya matahari menerobos melalui celah dinding bambu yang sudah bolong-bolong. Tidak ada listrik di rumah itu. Jika malam, Sunarwi akan menyalakan lampu teplok untuk penerangan seadanya.

Lelaki renta itu beristirahat sebentar sambil mengipasi tubuh dengan topi caping. Setelah lepas lelahnya, ia lanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Dikeluarkannya sebentuk adonan dalam baskom.

Diuleninya sebentar lalu mulai membentuknya menjadi sepotong telinga manusia. Lihai sekali tangannya membentuk adonan itu. Sesekali Sunarwi  mengambil sepotong telinga yang ia rendam dalam formalin di sebuah toples untuk menyamakan hasil kerjanya.

Sudah banyak hasil karya yang ia buat. Dari kecil ia memang pandai mencontoh suatu bentuk.
Tangan sudah, bibir sudah, telinga, jari-jari kaki. Setelah ini apalagi ya? Aha ....
Mata Sunarwi berbinar.

Sepasang mata bola pingpong. Sepasang bola mata yang berbinar ketakutan, seperti milik anak perempuan kecil itu ....

Sunarwi menghampiri sesosok jasad yang terbaring di pojok ruangan. Seragam sekolah masih melekat di tubuh mayat itu. Seragam yang sama dengan kedua anak manis yang terakhir membeli dagangannya.
Hidung yang bagus. Mancung dan tinggi, seperti pemain film india yang sering ia lihat di layar tancap. Tapi ia akan mengerjakannya belakangan. Hidung itu pasti akan menjadi mahakarya-nya yang paling hebat.
Sunarwi  menelusuri wajah mungil itu dengan pisaunya. Wajah yang sebelumnya lucu dan menggemaskan itu kini terlihat menyeramkan karena bibirnya telah menghilang. Menyisakan sebuah lubang yang menampakkan gusi dengan gigi-geligi kecil yang berderet dan percikan darah yang telah mengering.

Lihatlah Tuhan, hasil karyaku hampir mirip dengan ciptaan-Mu bukan, batinnya jumawa.

Sungguh, aku tidak membenci-Mu, Tuhan. Aku sangat mengagumi kebesaran-Mu. Karena itulah aku jadi terobsesi dengan segala rupa ciptaan-Mu. Tapi mengapa orang-orang di surau malah memukuli, menelanjangi dan mengikatku di pohon ketika Ustadz Zulkifli tidak mampu menjawab ketika aku bertanya tentang-Mu? Malah dibilangnya aku ini Atheis, Iblis, Syaiton, Dajjal, bahan bakar neraka yang akan kekal di sana ...,

Tidak, Tuhan, aku sudah melupakan dendam itu ketika kukunci orang-orang itu di dalam rumah pohon kami lalu membakarnya.

Sungguh indah mendengar lolong penderitaan mereka tengah malam itu. Begitulah manusia, Tuhan. Sebentar congkak, sebentar menghiba memohon ampun ....

Sunarwi terkekeh puas mengingat masa lalu, lalu mulai mencongkel mata yang membelalak itu. Tapi belum sempat Sunarwi beraksi, wajahnya mengeryit ketika merasakan nyeri hebat di dada kirinya. Saking nyerinya sampai membuat lelaki itu terjajar mundur menabrak tembok bambu reyot yang membelakanginya. Membuat beberapa perkakas yang digantung berjatuhan. Matanya mencelang dengan mulut menganga sambil menebah dada kirinya, menahan rasa sakit yang teramat sangat. Sunarwi merosot jatuh lalu terkapar di lantai berkalang tanah dengan mata membelalak ketakutan dan mulut ternganga lebar.

Perlahan teringat olehnya petuah sang Ustadz di malam sebelum ia ditelanjangi dan diludahi oleh teman-temannya sepulang mengaji.

"Sehebat apapun manusia, mereka tidak akan bisa mengalahkan penciptanya. Tidak akan pernah bisa, Nawi ...."

Sunarwi tak sempat menyesal karena malaikat maut keburu datang.
-oOo-

Entah kapan mayat Sunarwi dan gadis kecil tak berdosa itu ditemukan?

Mungkin beberapa hari lagi, saat angin membawa kabar bau busuk yang  mulai menguar ....

Atau beberapa bulan lagi, karena tempat itu sangat jauh terpencil.

Ketika Sunarwi sudah garing dan mengering.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar