Selasa, 08 September 2015

Tarian Hujan

Foto by Google



Ati duduk melamun di balik bingkai jendela kamar. Sementara, beberapa bocah lelaki di lapangan di seberang kamarnya, begitu asyik bermain bola. Suara gemuruh di langit menyadarkan gadis dua puluh tahun itu. Teringat lagi olehnya kejadian beberapa bulan lalu, ketika hampir menikah.

Sang penghulu akhirnya undur diri setelah lama menunggu pengantin pria yang tidak datang. Meninggalkan gadis berkebaya putih yang termenung dalam masygulnya.

Dan angin membawa kabar tentang pengantin prianya yang menghilang entah kemana ….

Sejak itu, gadis berwajah sendu mengurung diri di dalam kamar, berteman dengan kepiluan. Sanggulnya menggelinding entah kemana. Airmata meluberi maskara, meninggalkan garis hitam di sepanjang jalannya. 

Tapi Ati tidak mau melepas kebaya putihnya. Susah payah bagaimanapun keluarganya membujuk.
Pernah suatu kali, ia menangis keras, ketika sehabis mandi tidak mendapati kebayanya lagi. Membuat tetangga mendatangi rumah mereka. Sang ibu terpaksa menutup semua pintu dan jendela, ketika anaknya yang telanjang sehabis mandi, menjerit berguling-guling di atas lantai. Keluarganya terpaksa membeli beberapa potong kebaya lagi.

Sejak itu, setiap hari Ati akan memakai kebaya putihnya. Seakan ingin menunjukkan pada dunia, kalau dia akan menikah pada hari itu. Meskipun setelah itu, ia hanya akan duduk sambil bermenung di depan jendela kamar ….

Berbulan-bulan Ati menutup diri. Hidup dalam dunianya sendiri. Di mana tidak ada seorang pun yang bisa menyakiti. Para tetangga mulai menyebutnya ‘orang gila yang gagal menikah’. Padahal gadis itu tidak gila. Ia hanya menanggung kecewa mendalam terhadap Hasan.

Ati mulai menyalahkan semua. Ia menyalahkan Tuhan, mengapa harus mengirimkan Hasan jika hanya untuk menyakiti. Ia menyalahkan ayahnya, mengapa harus mati muda, sehingga tidak bisa membela anak. Ia pun menyalahkan sang bunda, mengapa hanya mampu menyekolahkan sampai tingkat Tsanawiyah, sehingga mudah dibohongi bualan cinta.

Setiap hari ia mencari hal-hal baru untuk dipersalahkan atas nasib buruknya.

Tapi sebuah berita yang di dapatnya tadi pagi melemparkannya kembali ke dunia nyata ….
***

Ati menatap hujan yang tercurahkan dari langit. Hujan pertama di awal musim telah membasahi tanah yang mulai retak mengering.

Kata beberapa orang tua, hujan pertama tidak baik untuk kesehatan. Ia membawa penyakit. Padahal sejatinya hujan pertama membawa berkah. Ketika ia turun, debu-debu yang jumawa tersungkur lagi ke sudut bumi.

Ati menghirup napas dalam-dalam. Bau tanah yang bercampur air hujan tidak pernah berubah sejak ia kecil. Membangkitkan nuansa berbeda di dalam hati.

Perlahan dilompati jendela kamarnya yang pendek. Gadis itu berdiri di beranda sambil menatap rinai hujan. Mata bundar memandang ke langit, mencoba mencari Mikail di atas sana, tapi yang terlihat hanya mendung yang menggelayut.

Kaki telanjang Ati melompati selokan kecil yang membatasi rumahnya dengan tanah lapang di sebelah.

Gadis dengan rambut lurus terurai itu memejamkan mata. Meresapi titik-titik air yang menderas di atas kepala. Merasakan tanah basah di bawah telapak kaki.

Direntangkan kedua tangan seakan menyambut hujan. Gadis mungil itu berjalan ke tengah lapangan, makin lama langkahnya semakin cepat, lalu tiba-tiba ia berputar. Terus berputar tanpa henti seakan menarikan tarian *sufi.

Para bocah terdiam memperhatikan. Akhirnya mereka kompak mengejar gadis berkebaya putih itu sambil bersorak-sorai.

Ati jatuh tersungkur. Merunduk. Mengambil napas yang hampir habis. Ia meraih segenggam lumpur, lalu memborehkan ke wajahnya. Gadis itu tertawa-tawa sendiri. Berbaring menantang hujan dengan mata terpejam. Merasakan titik-titiknya yang menusuk wajah. Melumerkan sebagian lumpur di wajah ayu.

Bocah-bocah tadi menghampiri. Mereka mengelilinginya sambil membentuk lingkaran. Berputar menertawakan tingkahnya.

Ati memperhatikan mereka. Sepotong senyum gula-gula merekah sempurna. Ia meraih tangan salah seorang dari mereka, lalu ikut menari. Tertawa-tawa sambil mengelilingi tiap sudut lapangan. Kaki telanjangnya menginjak genangan air. Mencipratkan air ke kain jarik dan kebaya putih. Tapi Ati tidak peduli. Ia terus menari bersama para bocah lelaki di bawah rinai.

Hujan sudah berhenti, menyisakan rintik-rintik air yang sesekali menusuk wajah. Ia menyungkurkan wajahnya ke tanah. Menangis dalam sujud yang panjang ketika teringat berita yang dibawa orang dari kota.

Mantan calon suaminya tewas di kamar hotel, akibat over dosis obat kuat. Bersama seorang perempuan panggilan.

Bahunya berguncang akibat tangis yang tertahan.

‘Tuhan, betapa Maha Sempurnanya Engkau. Dan betapa kerdilnya aku ….’ []

*Tarian Sufi : Tarian yang berasal dari Turki dengan gerakan memutar melawan arah jarum jam sebagai bentuk dzikir kepada Allah.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar