Selasa, 08 September 2015

Kesaksian Rembulan

Foto by Google



Aku telah memperhatikan mereka sejak selesainya upacara di desa. Di mana mereka mencegat penari itu lalu menggumulinya bergantian. Sampai salah seorang dari mereka mencekiknya.

Ketiga lelaki terlihat bertengkar ketika melihat gadis itu tak bergerak lagi. Lalu mereka bergegas mengangkut tubuh sang gadis dan membawanya menggunakan angkot. Berjalan melewati desa demi desa hingga sampai di sebuah sumur.

Ketiga lelaki itu; Giman, Supri dan Jaya, memang sejak lama mengincar sang gadis penari. Aku tahu dari obrolan mesum mereka di pos ronda ketika membicarakan gadis penari itu. Lenggokan pinggulnya selalu membuat jakun mereka naik-turun. Kerlingan mata membuat mereka lupa bernapas. Dan senyumannya yang mengundang, membangkitkan sesuatu di dalam diri setiap lelaki.

"Membuat repot saja." Kulihat Jaya meludah sambil menggerutu.

"Apa boleh buat. Dia terlanjur melihat wajahku," sahut Supri. Ah, segumpalan awan yang lewat memburamkan pandanganku.

"Tapi, Kang, matanya tidak mau menutup. Ia seolah memandang dan mengutuki kita." Itu suara Giman, si penakut. Gumpalan awan tadi sudah menghilang. Kini aku bisa melihat lelaki yang bergetar ketakutan itu. Ia menoleh ke arah lain, enggan menatap mayat itu. Tapi yang ia lihat hanya pepohonan yang berdiri tegak--angkuh, dengan bayangannya yang menyeramkan.

"Ah, kau ini, Man. Tadi waktu menindihnya, kau tidak takut," ejek Jaya.

"Kau yang memaksaku, Kang. Tadinya aku hanya menemani."

"Sudahlah, jangan bertengkar lagi. Kita harus segera menyelesaikan ini." Supri melerai teman-temannya. Ia pun enggan berlama-lama.

"Kau yakin mayat ini tidak akan ditemukan, Sup?"

"Tempat ini jauh dari pemukiman. Dan sumur ini pun tidak pernah dipakai lagi," sahut Supri.

"Kata orang, tempat ini angker." Kata-kata dari lelaki itu membuat Giman membelalakkan mata. Ia menelan ludah.

"Ang--angker, Kang Supri? Kenapa kita bawa mayat ini ke sini? Bagaimana kalau ...."

"Bagaimana kalau kita bawa mayat ini ke kantor desa, biar polisi menangkap kita? Hah?! Sudahlah, hilangkan ketakutanmu, biar cepat selesai masalah kita ini."

Giman segera bergegas. Mereka mendorong batu yang menutupi sumur. Supri dan Jaya melongok ke dalam, sementara Giman memandang berkeliling sambil memegangi tengkuknya yang merinding.

Supri menyalakan senter, tapi ia tidak dapat menemukan dasar sumur. Cahayaku yang bulat sempurna pun tak mampu menjangkau kedalamannya.

"Sepertinya dalam sekali. Bagus. Makin dalam makin susah ditemukan. Itu makin baik." Jaya mengangguk mengiyakan.

"Cepat kita angkut." Jaya berbalik. Dilihatnya Giman masih terdiam di tempatnya sambil memandang sekeliling. Lelaki tegap itu segera menghardik.

"Hei, jangan diam saja. Cepat bantu!" Giman tersentak. Mereka segera mengangkat tubuh gadis itu lalu melemparkannya ke dalam sumur.

Aku sama terkejutnya ketika sesosok bayangan menerjang mereka. Giman mengaduh sambil merapal doa. Ketiga pria menatap kucing yang berdiri di pinggir sumur. Kucing hitam itu menatap mereka satu-persatu. Seakan merekam wajah mereka dalam memori. Lalu melompat ke dalam sumur.

"Cepat, tutup pintunya!" perintah Giman dalam ketakutannya. Supri dan Jaya segera mendorong batu penutup sumur. Mereka terdiam, berusaha mendengar suara di dalam sumur, tapi hanya keheningan yang mereka dapat.

"I--itu kucing hitam, Kang. Biasanya kucing hitam berhubungan dengan hal-hal mistis." Aku ingin tertawa mendengar suara Giman yang bergetar ketakutan.

"Ah, kau ini, Man, selalu saja menghubungkan segala-sesuatu. Menyesal aku mengajakmu, tadi." Jaya terlihat gusar. Sepertinya ia mulai merasa takut. Mereka bertiga segera bergegas pergi.

Tempat itu mulai hening kembali dari manusia. Hanya suara jangkrik dan binatang malam yang mengisi malam di dekat sumur. Tapi aku bisa mendengar suara sang gadis yang berusaha memanjat dinding sumur dengan susah-payah menggunakan kuku-kuku panjangnya. Kubayangkan beberapa ujung jari lentik mulai meninggalkan jejak darah setiap kali ia mencengkeram dinding sumur dan merosot lagi.

Batu penutup sumur berderak terbuka. Sebuah tangan kurus menjulur keluar. Dengan berpegangan pada bibir sumur, sang gadis berusaha mengangkat tubuh hingga akhirnya berhasil merangkak keluar dari sana.

Gadis itu merayap di atas perutnya. Aku bergidik demi mendengar suara napasnya yang penuh kebencian. Sementara sang kucing hitam mendampingi dengan setia.

Kucing itu menoleh padaku, menatap dengan matanya yang lebih cemerlang dari malam. Untung sekumpulan awan menyembunyikan diriku. Aku mengintip takut-takut. Kulihat ia berjalan kembali di sebelah gadis itu yang masih merayap di atas perutnya, lalu menghilang di kegelapan malam.

Senandung merdu shalawat membuatku tersentak sadar. Kucari asal suara.

Di sebuah rumah kecil yang jauh dari tempat itu, seorang ibu berusaha membujuk anaknya yang tidak bisa tidur karena ketakutan. Senandungnya begitu lirih dan indah.

Kudengar ia berkata pada anaknya yang mulai tenang dalam pelukan.

"Setan memang menyeramkan, Sayang. Tapi manusia yang menyerupai setan, jauh lebih menakutkan."
-oOo-

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar