Selasa, 08 September 2015

Ini Sebuah Rahasia

Dan aku memutuskan untuk menceritakannya. Tapi ini hanya kalian saja yang tahu. Jangan sampai bocor. Apalagi ke Nuree yang menyebalkan itu. Ini tentang alasan mengapa aku phobia balon. 

Waktu kecil, aku sama seperti anak-anak lainnya. senang bermain balon warna-warni. Ibuku sering meniup balon, lalu melepaskannya hingga balon itu terbang tak beraturan di kamar. 
Tapi itu dulu. Jauh sebelum ibu meninggal ...
-oOo-

Aku tidak tahu mengapa nenek tidak menyukai ibu. Mungkin karena ibu tidak seperti dirinya, yang sempat menjadi kembang di desanya.

Mungkin juga karena nenek tidak mencintai ayahnya ibu. Nenek dipaksa menikah dengan kakek ketika berusia dua belas tahun. Perempuan itu terpaksa melepaskan angan- angannya untuk bersekolah tinggi lalu menikah dengan lelaki Belanda yang beberapa kali ditemuinya di perkebunan karet.

Umur lima belas tahun, nenek melahirkan ibu. Dan ia semakin kecewa ketika merasa sang anak tidak secantik dirinya. 

Kakek meninggal ketika ikut perang melawan Jepang, lalu nenek menikah lagi. Sampai beberapa kali, karena tidak ada satu lelaki pun yang sanggup menghadapi dirinya yang sok ningrat.

Mungkin ia stress dengan kehidupannya, lalu melampiaskannya pada sang anak.

Nenek memang tidak pernah memukul ibu. Tapi kata-kata perempuan yang selalu berkain jarik itu adalah belati yang terus-menerus menghujam luka hati Ibu yang sudah menganga akibat perlakuannya.

Semua hal yang ibu lakukan selalu salah di mata Nenek. Setiap keberhasilan Ibu selalu ditanggapi dingin olehnya. Nenek hanya menanggapi perkataan Ibu sekedarnya saja. Itupun sangat jarang, karena mereka hanya mengobrol untuk hal-hal yang diperlukan saja.

Aku tahu, betapa terlukanya hati perempuan kesayanganku. 

Seumur hidup Ibu, tidak pernah sekalipun nenek memuji anak semata wayangnya itu. Nenek selalu bilang kalau ibu jelek. Nenek juga bilang kalau mungkin anaknya tertukar ketika melahirkan dulu.

Hal yang sangat tidak mungkin mengingat nenek melahirkan di rumah dengan dibantu dukun beranak--Orang tua itu memang terlalu banyak menonton film drama.

Nenek bilang kulit ibu tidak putih seperti dirinya, tubuhnya pendek-gemuk, dadanya pun rata. Tidak akan ada yang mau menikahi perempuan jelek seperti ibu. 

Perlakuan itu membuat ibu terobsesi memperbaiki penampilan dirinya.

Dimulai dengan diet ketat dan perawatan tubuh hampir setiap hari. Tapi nenek tetap mengejek ibu. Malah dia bilang ibu genit tiap kali bersolek, mirip pelacur yang suka menggoda lelaki hidung belang.

Meskipun akhirnya ibu menikah dengan orang Malaysia, yaitu ayahku, tetap saja nenek mencemooh ibu. Dia sering menjelek-jelekkan anaknya pada sang menantu. Akibatnya ayah ikut-ikutan menjauhi ibu, dan akhirnya mereka bercerai.

Nenek pun bukannya tidak pernah menjelekkan ibu di hadapanku. Tapi aku tetap tidak tergoyahkan. Aku selalu menangkis setiap perkataan buruknya. 
Aku ingin ibu mendengar ketika aku membelanya. Aku ingin ibu tahu, masih ada seseorang yang menyayanginya dengan tulus.

Aku tidak punya alasan untuk membenci Ibu. Garis-garis wajahnya banyak menurun kepadaku. Alis dan kelopak mata yang indah, tahi lalat di pipi kiri, dan kulit kecoklatan miliknya. Mengingat Ibu membuatku semakin mencintai diriku sendiri.

Aku selalu membelanya setiap kali nenek mulai menghujat. 

Lalu perempuan tua itu mengubah taktik. Ia mulai menjelekkan diriku. Tentang betapa besar kakiku, betapa bongsor tubuhku, dan betapa kecil payudaraku.

Tapi aku adalah gadis yang kuat. Tidak ada seorangpun yang berhak membuatku merasa rendah, meskipun nenekku sendiri.

Aku balas mengomentari rambutnya yang memutih dan hampir botak, tubuhnya yang ringkih, mulutnya yang bau sirih, sampai kelakuannya yang tidak pandai mengaji. 

Jika kehabisan kata untuk membalas, aku akan menasihatinya, betapa tidak pantas seorang tua menjelek-jelekkan keturunannya. Seakan mencemooh ciptaan Tuhan yang dibuat untuknya.

Kalau sudah seperti itu, nenek hanya akan diam, dan kemenangan mutlak di tanganku.

Perempuan bergincu sirih itu menemukan lawan yang lebih tangguh darinya.

Kehilangan ayah memang membuatku menjadi pribadi tangguh. Tapi tidak dengan Ibu. Kepergian ayah semakin membuat kepercayaan diri yang hanya sekedarnya merosot jatuh. 

Aku tahu ibu menyayangi nenek sekaligus membencinya. Ia ingin menunjukkan kepada orang tua satu-satunya itu kalau dirinya juga wanita cantik dan berharga. Tapi ibu salah mencari jalan. Ia melakukan segala cara untuk mewudkannya.

Lalu ketika kemajuan di bidang medis berkembang pesat, ibu mulai terobsesi dengan kecantikan instan. 

Dan kalian tahu, sekali seseorang melakukan operasi plastik, ia tidak akan pernah merasa cukup. Ia akan terus mencoba dan mencoba lagi, hingga merasa puas. Dan itu tidak pernah terjadi. 

Begitulah yang terjadi pada ibu. Ia terus berpindah dari satu meja operasi ke meja operasi lainnya. Ia menaikkan tulang pipinya, menghilangkan kerut di wajah, memancungkan hidung, menyedot sekian liter lemak dari tubuh, dan memperbesar payudaranya. Dan sepertinya yang terakhir betul-betul membuatnya terobsesi.

Ketika kecil, aku suka memasukkan balon ke balik bajuku sehingga mirip perempuan dewasa berdada indah. Tapi demi melihat payudara ibu yang terlihat semakin besar, menonjol dan mengkilap karena kulitnya yang meregang akibat menampung cairan silikon, aku selalu paranoid.

Ibu mulai mendapat keluhan dengan payudara bersilikonnya. Ia selalu sakit punggung dan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia juga tidak bisa naik pesawat ketika hendak menjenguk ayah di Malaysia karena khawatir tekanan udara di kabin pesawat bisa menekan payudaranya. 

Ibu pun tidak bisa bergerak bebas dan tidak bisa tertawa lepas. Mungkin yang terakhir memang bisa dihindari karena aku jarang melihat Ibu tertawa.

Dan perempuan malangku itu mulai mengonsumsi obat penenang untuk menghilangkan kegelisahannya ...

Nenek menyadari kesalahannya dan mulai mendekat. Tapi semua sudah terlambat. Ibu selalu bersiaga jika ada nenek di dekatnya. Ibu sudah memasang tembok penghalang untuk orangtuanya.

Perempuan berwajah tirus itu selalu terlihat baik-baik saja bila ada kami di sampingnya. Tapi aku tahu, hati dan jiwanya menangis. Ia ingin hidupnya kembali seperti semula lagi.

Dan suatu hari keinginannya terkabul. Pagi itu aku tidak melihat lagi payudara bersilikon milik ibu. Payudaranya hilang. Mungkin kempes, atau meledak? Karena yang kulihat hanya wajah pucat dan kesepian Ibu, juga tempat tidurnya yang basah ...

Reaksi:

3 komentar: