Selasa, 08 September 2015

Guardian Angel

Foto by Google

Flona terus memainkan kuasnya meskipun di luar ruang kesenian terdengar riuh suara teman-teman.
Flona memang senang menyendiri dengan lukisannya. Sampai teman-teman di sekolah menganggapnya anak aneh.

Gadis itu menyapukan sapuan terakhirnya. Mengusap wajahnya dengan punggung tangan, hingga tidak menyadari kalau cat berwarna biru menempel di wajahnya yang berbintik-bintik.

Ia memandang lukisannya lekat-lekat sambil tersenyum tipis. Seorang malaikat tampan bertubuh tegap--gelap, dengan perut six pack dan berdada bidang. Tak lupa, sayap kecil di punggung.

Flona mengembuskan napas dengan sedih. Entah sudah berapa kali ia melukis tentang malaikat. Berharap salah satu lukisan malaikatnya menjadi nyata, lalu membelanya dari teman-teman yang selalu membuli. Tapi gadis dengan rambut keemasan berkepang dua itu sadar, ia terlalu banyak berkhayal.

Flona membuat tanda silang di pipi kanan malaikat. Lagi-lagi membuang napas dengan berat dan menunduk lesu.

Gadis itu membuang paletnya. Dengan langkah gontai ia meninggalkan ruang kesenian, lalu mematikan lampu. Tapi bunyi sesuatu yang jatuh membuatnya menyalakan lampu kembali.

Ia memperhatikan sekeliling, dan matanya membelalak. Tergesa-gesa ia hampiri kanvasnya lagi. Kertasnya kosong melompong. Ke mana lukisan malaikatnya??

"Aduduh, lututku sakit sekali," keluh seorang lelaki membuat Flona menoleh.

Dan matanya makin membelalak lebar melihat seorang lelaki duduk tidak jauh darinya. Posenya persis seperti dalam lukisan. Dengan kaki kanan dilipat ke belakang, dan kaki kiri menempel ke dada. Sementara tangannya mengepal meninju lantai. Kedua sayap putih terlihat menyembul dari balik punggung.

"Ka--kau siapa?" Lelaki tampan itu mengeryitkan alis.

"Aku? Tentu saja malaikatmu," sahutnya sambil menyisir rambut legamnya dengan jari-jari.

"Ma--mala ..., tidak mungkin!" Flona menyentuh kedua pipinya takjub. Tapi ini sungguh-sungguh nyata kan?Tanda silang di pipi kanan malaikat itu betul-betul kerjaannya!"

"Kamu malaikat penjagaku? Kamu yang akan menjagaku mulai sekarang?" Senyum licik mulai terbit. Di pikiran Flona mulai tercipta sejuta rencana pembalasan dendam untuk teman-temannya.

"Tentu saja ... Tapi sebelum itu ...." Malaikat melihat sekeliling.

"Bisakah kau berikan aku baju. Di sini dingin sekali. Brrr ...." Sang malaikat memeluk tubuhnya yang bertelanjang dada. 
-oOo-

Reaksi:

1 komentar: