Kamis, 17 Agustus 2017

Kisah Zora dan Hanan

Image by Pinterest
Oleh : Nuree Patria

Zora mengintip dari balik lensa. Terlihat anak-anak muridnya tertawa riang. Mereka berhasil menangkap seekor ikan mas besar. Beberapa anak perempuan berteriak sambil berlari ketakutan. Ikan yang mereka tangkap loncat dari jaring lalu menggelepar di atas tanah. Zora tersenyum. Menurunkan kameranya lalu melihat berkeliling.

Jala matanya menari; dari kolam pemancingan ikan, saung sawah, kemudian menuju ke arena memandikan kerbau. Begitu banyak permainan dan fasilitas yang di tawarkan untuk anak-anak di Taman Arwana ini. Di sini juga terdapat tempat penyewaan motor ATV yang disediakan untuk dewasa. 

Di beberapa sudut terdapat beberapa keluarga kecil yang sedang bercengkerama.

Sebuah tempat yang selalu mengundang gelak dan tawa. Tempat wisata yang menyenangkan untuk keluarga.

Ia pasti akan sering membawa anaknya liburan ke sini nanti.

Seandainya ia memiliki anak ...

Gadis itu duduk menjuntai di sebuah saung. Tidak mengacuhkan ikan-ikan yang berenang bergerombol di bawah sana. Jemarinya yang  sibuk menggeser layar kamera digital berhenti di foto seorang gadis kecil. Perasaan bersalah menyeruak. Naya pasti heran, mengapa ibu guru kesayangannya mendadak cuek. Padahal anak perempuan berpipi gembil itu selalu berusaha menarik perhatiannya. Hendak 'memamerkan' sang ayah.

Akhirnya, di saung melukis caping topi, ia mendekati gadis kecil itu. Memuji lukisan kupu-kupunya. Mengajaknya berbicara hal-hal yang menyenangkan. Dan Naya pun kembali ceria.

Zora menggeser layar kembali. Foto seorang lelaki di atas motor ATV. Ia melihat ketika lelaki itu ikut mengantri permainan tersebut. Seperti tersihir, Zora mengikuti setiap gerakannya. Bahkan diam-diam mengarahkan kamera digitalnya. Merasakan hatinya yang terus bergemuruh.

Zora dan Hanan.

Sepuluh tahun yang lalu, nama itu tersemat begitu indah. Mereka berkenalan ketika mendaftar di fakultas yang sama. Dan hubungan manis mereka pun berlanjut, mengisi masa-masa indah di kampus.

Tapi sesuatu terjadi pada gadis itu.

Air susu yang keluar sebelum waktunya membuat Zora berpikir tentang kemungkinan kanker payudara. Dan hasil tes yang diterima tidak menunjukkan sesuatu yang lebih baik.

Hiperprolaktinemia, kelebihan hormon prolaktin. Terdengar begitu sederhana dan tidak berbahaya. Tapi efek yang ditimbulkan membuatnya harus mengubur impian untuk menjadi seorang ibu.

Dan ia memutuskan meninggalkan Hanan. Tanpa penjelasan.

Bertahun-tahun Zora menghilangkan diri. Dan kini mereka bertemu dalam situasi yang sangat berbeda. Lelaki itu tetap setampan dulu. Malah semakin sempurna dengan kematangannya.

Sedangkan ia ...

Salah satu lulusan terbaik di fakultas mereka hanya menjadi seorang guru PAUD. Bukankah Zora terlihat menyedihkan?

Ia selalu berharap, dapat memamerkan anak lelaki tampan yang memiliki paras seperti dirinya pada Hanan. Tapi Zora tahu, hanya membuai diri dengan impian semu. Telah beberapa kali keluarganya berusaha menjodohkan. Mengenalkannya dengan para lelaki yang sanggup menerima kekurangannya tersebut. Tapi gadis itu menyadari, pernikahan bukan hanya tentang dirinya dan calon suaminya nanti. Ada keluarga besar yang akan selalu membayangi kehidupan mereka. Dapatkah ia menanggapi pertanyaan-pertanyaan menjemukan yang ia sendiri akan jenuh menjawabnya nanti? Dan bukankah di setiap jawaban yang ia berikan, hanya akan terus mengingatkan kalau dirinya adalah perempuan yang tidak sempurna ...

Seseorang berdehem. Membuat Zora menoleh sedikit untuk kemudian berjuang meredakan gemuruh di dada.

"Ibu guru sudah makan?" tanya lelaki yang kini ikut duduk menjuntai di sebelah gadis tersebut. Sepasang kakinya menggoda segerombolan ikan mas yang berenang. Zora menjawab singkat. Pura-pura menekuri foto dalam kamera.

"Waktu Naya cerita tentang ibu guru bernama Zora, pikiranku langsung tertuju pada kamu." Terdengar tawa canggung, lalu hening kembali.

Hanan menatap gadis yang berada di sebelahnya, seakan menyelidik.

"Kenapa lulusan fakultas ilmu kesehatan macam kamu memutuskan menjadi seorang guru?" Zora mengangkat wajahnya dari kamera. Tertawa kecil.  Berusaha mengurangi kecanggungan yang tercipta.

"Susah cari kerja, Pak." Hanan ikut tertawa. Renyah. Betapa Zora merindukan suara tawa itu.  

Gadis itu melanjutkan ucapannya setelah kecanggungan di antara mereka mencair, "Aku turut menyesal tentang ibu Naya." 

Wajah Hanan mendadak muram. Ia berkata setelah terdiam lama,"Dia meninggal karena kecelakaan mobil." Zora terdiam. Pandangannya teralih pada seorang bocah laki-laki yang menangis di atas punggung kerbau. Seorang perempuan--mungkin guru anak itu, bergegas menurunkan. Teman-temannya tertawa meledek. 

"Hari itu adalah hari pertamanya bekerja setelah cuti melahirkan ..." Hanan mengusap wajah.

"Harusnya aku mengantar, namun entah mengapa ia memutuskan berangkat sendiri."

Zora melihat kepedihan di mata Hanan ketika bercerita tentang perempuan itu. Dan tiba-tiba saja hatinya terasa sakit.

Lelaki ini terlihat begitu mencintai istrinya.

"Tapi ia meninggalkan seorang anak yang sangat cantik." Zora memperhatikan Naya yang sedang bermain.

"Ya," sahut Hanan segera.

"Entah apa jadinya kalau tidak ada Naya. Ia adalah pengobat hatiku." Zora tersenyum mengingat tingkah menggemaskan anak itu.

"Naya senang mewarnai. Goresan crayonnya rapi dan halus."

"Seperti aku, kan" Hanan menyeringai. Membuat Zora tertawa. Mereka mengamati Naya yang tengah berbagi bekal dengan seorang teman. Perlahan pandangan Hanan tertuju pada gadis di sebelahnya.



"Aku sudah tahu tentang keadaanmu," Zora tertegun mendengar ucapan tersebut.

"Oh, ralat. Aku terlambat mengetahui keadaanmu. Itu sehari setelah acara lamaran." Hanan tertawa kecil sebelum melanjutkan, "Ibuku berpikir anak lelakinya ini sudah jadi perjaka lapuk hingga harus segera dicarikan jodoh." Zora meneguk ludah melihat tatapan Hanan.

"Kenapa kamu tidak cerita?" Wajah di hadapan Zora kembali muram. Ada perih yang terlolos bersama embusan napas.

"Aku selalu menerimamu apa adanya, Zora. Kamu tahu itu."

Gadis itu menatap di kedalaman mata Hanan. Hingga sebuah panggilan menyentak kesadarannya. Seorang rekan guru mengajaknya untuk makan bersama. Zora sudah bergegas bangkit. Tapi Hanan memanggilnya. Membuat Zora tertahan. Lelaki itu berdiri di hadapannya. Menyerahkan sesuatu. Fotonya di samping motor ATV. Zora mengernyitkan alis tidak mengerti.

"Yang ini lebih jelas daripada di layar kamera digital punyamu." Gadis itu menggigit bibir. Pipinya terasa menghangat.

Hanan hanya mengedipkan sebelah mata sebelum berlalu.

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia

Rabu, 16 Agustus 2017

Antara Kali Adem dan Harapan


Tinggal di pesisir pantai Jekardah tapi ngga pernah nyebrangin laut? Syedih ngga siy? Akhirnya beberapa hari yang lalu saya pun menguatkan hati untuk menyebrang lautan. Ngga jauh-jauh hanya menyebrang dari Kali Adem di Muara Angke menuju pulau Harapan di Kepulauan Seribu. Di brosur paket pariwisatanya siy kapal berangkat jam 07.00. Tapi kenyataan di lapangan pelabuhan kapal berangkat jam 09.00. Ngaret berapa jam cobaa.

Sebaiknya berangkat sejak pagi-pagi buta jika hendak menuju ke pelabuhan. Sebab kalau sudah siangan dikit alamat macet di daerah pasar dekat Kali Ademnya. Sopir Grabnya ajah sampai nyaranin kami untuk turun jalan kaki buat lanjutin perjalanan ke pelabuhan. Tapi untung ngga kami turutin. Karena jaraknya masih sekilo lagi. Belum lagi jalanan becek dan bau amisnya. Belum lagi bawaan dan bekal perjalanan kami yang lumanyan banyak, bikin rempong ajah kalu kami harus lanjutkan perjalanan dengan jalan kaki untuk sampai ke sananyah.

Begitu sampai di pelabuhan Kali Adem, sudah tampak beberapa kapal yang tertambat. Kapal laut kami ternyata ngga punya pintu masuk resmi. Kami masuk lewat jalan manapun yang bisa dilewati. Dari belakang kapal, Lewat jalan kecil di bagian pinggir luar kapal, lalu masuk lewat pintu-pintu atau jendela-jendela yang bisa dimasuki. Bahkan numpang lewat dari kapal sebelah yang paling dekat dermaga menuju ke kapal kami yang sebenarnya.

Kapal yang kami tumpangi berukuran sedang, terdiri dari dua tingkat. Mirip banget sama mainan kapal-kapalan yang biasa dijual sama abang-abang di pasar, dari bentuk dan cara jalannya.
Kalau kamu termasuk orang yang gampang mabuk laut, sebaiknya cari posisi di kapal bagian atas ajah. Jangan di bagian bawah, apalagi di belakang kapal dekat mesin. Sudah berisik, goyangannya pun terasa bangett. Tapi bagi beberapa orang, ayunan dari gelombang laut di atas kapal malah bikin ngantuk. Kalu buat beberapa orang yang parnoan macam saya lumayan bisa nambah-nambah pahala dzikiran.

Di bagian dalam ada jejeran bangku yang mirip di bus kota. Ada juga tempat yang lapang tanpa bangku-bangku. Ini bisa dipakai untuk penumpang yang ingin duduk lesehan ataupun tidur.

Sebelum berangkat biasanya ada petugas yang akan menghitung jumlah penumpang. Juga pembagian jaket pelampung. Tapi saya ngga tahu siy ini pasti diberikan atau ngga. Karena pas pulangnya ngga ada pembagian jatah jaket pelampung lagi tuh.

Ini beberapa hal yang harus kalian persiapkan kalau ingin menyebrang pulau:

  1. Yang paling utama siy sudah pasti cemilan dan minuman. Karena harga makanan di sini lumayan mehong alias mihil alias mahal. Harga eskrim saja bisa sampai lebih dari dua kali lipatnya. Udah gitu perjalannya bisa sampai dua hingga tiga jam. Nyemilin makanan bisa jadi salah satu cara mengisi waktu di atas kapal.
  2. Kipas. Karena di atas kapal very-very hotz.
  3. Minum obat mual mabok, buat jaga-jaga. Karena kalau sudah mabok baru diminum kayaknya agak susah juga kerja obatnya.
  4. Baterai handphone full charger. Lumayan buat denger-dengerin musik. Kalau buat browsing atau buka internet siy kayaknya agak susah, secara sinyal internet ngga sampai menjangkau tengah lautan. Mending dimatiin data selulernya sekalian, biar ngga boros baterai.
  5. Kalau perjalannya di siang hari sebaiknya pakai baju yang simple dan berbahan mudah menyerap keringat. Karena perjalanan masuk keluar kapal itu butuh sedikit perjuangan.
  6. Sering-sering minum air mineral bukan air laut. Anda bayangkan tengah hari bolong di tengah hamparan laut, pasti bikin dehidrasi. Ngga usah takut bakal sering pipis, karena di kapal juga disediakan toilet.
  7. Jangan lupa pakai jaket pelampung yang dibagikan. Memang bikin susah gerak, ribeut dan puanass. Tapi jangan menyepelekan jaket oranye ini yaa. Mencegah lebih baik kann.
Dan yang harus diperhatikan juga ketika berada di tengah laut adalah; Jangan buang sampah sembarangan yaa. miris deh kalu lihat ada bungkusan snack nganyut di tengah laut. Kalau di darat kan masih bisa dipungut (ini bukan pembenaran untuk buang sampah sembarangan juga) lalu dibuang ke tempat seharusnya. lha kalu di tengah laut??




#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia


Kuliah dan Bekerja

Foto by Pinterest


Persaingan di dunia kerja semakin bertambah berat. Makanya kita harus bisa menambah ilmu yang kita miliki. Salah satunya dengan sekulah kembali. Tapi pasti berat banget ya bekerja sambil kuliah lagi. Otak ini tuh kayaknya sudah lamaa banget ngga diasah. Jangankan buat mikirin pelajaran, hitung-hitungan sembilan dibagi dua ajah harus pake kalkulator sekarang mah. Belum lagi me time yang sudah makin sedikit harus dikurangi lagi untuk ngurusin segala macam urusan dunia perkampusan. Beluman lagi mikirin tambahan biaya. But dont worry be happy. Demi kehidupan yang lebih baik di masa depan, bolelah kita bersusah-susah di masa sekarang.

Berikut ini adalah hal-hal yang harus kamu perhatikan ketika memutuskan hendak bekerja sambil kuliah. 

Mempersiapkan biaya dan jurusan yang akan dipilih

Ini adalah hal paling dasar yang harus dipersiapkan. Harus direken-reken berapa dana yang harus dipersiapkan untuk kuliah kembali. Dari mulai biaya masuk, uang persemester, dan biaya sehari-hari. Pilih jurusan yang sesuai dengan pekerjaan saat ini. Bisa siy mengambil jurusan yang sangat berbeda dari pekerjaan sekarang, tapi kan sayang banget ilmu yang sudah didapat dari pekerjaan yang sudah dijalani selama ini. Dan Setidaknya ketika menjalani perkuliahan nanti, kita sudah memiliki dasar-dasar ilmunya.

Mempertimbangkan lokasi tempat kerja dan kampus

Kalau bisa carilah lokasi kampus yang berdekatan dengan kantor. Karena kalau jauh, pas kangen mereka bisa apa? Tapi memang ada beberapa jurusan yang kampusnya sangat terbatas. Mungkin bisa mempertimbangkan dengan bawa kendaraan sendiri (baca:motor). Baswei pun bisa jadi pilihan, karena transportasi kebanggaan jekardah ini sekarang sudah lebih nyaman dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Tempat duduk dan antrian untuk perempuan dan lelaki pun dipisah di beberapa halte. Tapi memang di jam-jam tertentu baswei amat sangat padat. Ini kadang membuat penumpang tidak nyaman.
Selain baswei, ojek online pun bisa dijadikan alternatif. Apalagi untuk manusia seperti saya yang ngga bisa naik motor. Praktis dan aman. Tapi usahakan kuota internet dan pulsa mencukupi. Donlot beberapa aplikasi ojek online, karena kadangkala aplikasi tersebut bisa erorr juga.

Meminta izin pada atasan

Bisa ajah diam-diam kuliah tanpa memberitahu pak bos. Tapi resiko terpaksa ditanggung sendiri. Dengan memberitahu atasan, maka akan lebih mudah untuk kita untuk meminta dispensasi. Entah untuk urusan waktu kerja maupun yang lainnya. Ketika sudah lulus nanti pun akan lebih mudah untuk meminta kesetaraan pendidikan. Dan barangkali juga hati pak mbos tersentuh dan beliauw berminat untuk membantu biaya sekolah kita. Ini barangkali loh yaa.

Persiapkan Mental dan Fisik

Lelah dan kecapekan pastilah, namanya saja seharian beraktifitas. Apalagi di saat-saat awal, stamina pasti bakal sempat ngedrop. Makan makanan yang bergizi dan jangan lupa dopping alias multivitamin untuk stamina dan daya tahan tubuh. Gunakan waktu yang tersisa di sela-sela kesibukan untuk beristirahat. Bisa memanfaatkan waktu perjalanan untuk tidur sejak. (mohon tidak dicoba untuk yang membawa kendaraan sendiri.)

Kurangnya waktu bersama orang-orang tercintah *tsahh


Untuk istirahat ajah kurang apalagi untuk kumpul-kumpul bersama keluarga. Kalau sudah ada waktu di rumah rasanya pingin hibernasi ajah kayak beruang kutub. Tapi inilah konsekuensinya bekerja sambil kuliah. Diri ini pasti hanya disibukkan oleh tugas kampus dan kerjaan. Apalagi untuk buibuk yang memiliki anak kecil. Harus Kuat-kuatin hati di kala ajak jalan anak di taman komplek, trus diliatin sampe sebegitunya sama teman si kecil, lalu dia bertanya dengan ringannya tanpa rasa bersalah “Mama kamu mana? Mama yang biasanya itu loo.”

Pengeluaran lebih besar

Ongkos, buku-buku kuliah, perlengkapan ngampus, makan, juga hal-hal printilan lainnya. Bisa membawa bekal dari rumah, dengan menu yang simple dan ngga gampang basi. Memanfaatkan Nebeng sama temen yang searah dari kantor maupun kampus bisa menghemat ongkos juga.

Segala hal yang kita kerjakan pasti ada konsekuensinya. Tapi kalau sudah di perjalanan nanti, seberat apapun yang dirasa tetap bertahan yaa. Perjuangan ini hanya sementara. Ketika rasa lelah, capek, depresi karena tugas kampus dan beban kerja bikin frustasi, ingatlah saat-saat gajian.




#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia




Selasa, 01 Agustus 2017

Memulai ODOP, Blogger Muslimah Challenge




Blog ini lumayan lama. Ada kalih sejak empat setengah juta tahun yang lalu, di mana saya masih suka ngeblog sambil lemparin kuaci buat tyrex jones yang sama-sama berada dalam kesendirian.

Ah, baiklah. Saya oong. Blog ini baru berdiri sejak dua tahun yang lalu. Terlihat dari postingan pertamanya di tanggal 24 Agustus di tahun 2015. Meskipun begitu, seharusnya blog ini sudah menghasilkan banyak manfaat dan DA yang melampaui 1507. Tapi kenyataannya? Postingan di blog ini hanya berisi 40 tulisan. Itu pun hanya berisi beberapa cerpen.

Saya memang lemah dalam hal kegigihan. Biasanya semangat menggebu-gebu hanya di awal saja. Untuk selanjutnya mletot di pertengahan awal, macam botol aqua yang kena air panas. Pernah ikutan ODOJ (One Day One Juz) dan hanya sanggup hingga juz pertama. Ikutan ODOK (One Day One Karya) pun sama saja. Beberapa ide cerita terkumpul dalam sehari, tapi pas eksekusi malah ambalayak. Entah harus dibegimanakan makhluk satu ini. Serasa ada kutil di ujung jari yang bikin jengah jemari lentik(???) ini untuk ngetik-ngetik tuts blackberry dan leppi (Tapi anehnya kutil itu mendadak hilang pas buka facebook sama instagram.)

Selain alasan tersebut di atas, sebenarnya ada hal lain lagi yang membuat saya rada malai ngeblog. Itu adalah alasan kegaptekan saya, permisah. Ya, saya memang seseorang yang amat sangat kudet dalam hal perblogan. Saya ngga tahu arti DA selain kepanjangan dari Dangdut Akademia. Saya juga jarang banget BW alias Blog Walking. Pernah gegayaan SKSD di blog orang. Sudah ketik-ketik komen panjang lebar, masukin alamat imel dan web. Klik lagi, dan hilang semua ketikan saya di kolom komentar tersebut.

Awal pertama ngeblog saya pakai android. Sudah susah payah memosting hingga makan waktu berlama-lama, diatur justify dan imagenya, lalu mendadak postingan itu raib entah kemana. Terasa perih namun tak berdarah ...

Itulah yang menjadi salah banyak alasan saya rada enggan berblog-ria. Akhirnya blog ini cuma sekedar untuk ngumpulin cerpen-cerpen yang pernah dimuat media. Padahal cerita cerpen saya masuk media termasuk Kejadian Luar Biasa yang amat sangat jarang terjadi.

Lalu sesempok (kakaknya seseadek *helleh*) memberitahukan saya, kalau ngeblog ternyata dapat menghasilkan uang. Sesempok inilah yang selalu mendorong untuk rajin nulis di blog. Katanya lumanyan dapat-dapat pendapatan dari ngeblog. Mayan juga juga hadiah dari sponsor kalu ada even *ehh

Kemudian saya pun mengganti domain blog, dari blogspot menjadi dot(tanpa-on)com, dengan pertolongan sesembak nun jauh di seberang pulau sana. Niat saya tulus ikhlas mengganti domain biar bisa semangat menghasilkan tulisan. Menaikkan derajat DA lalu menghasilkan iklan dari blog saya. Tapi lagi-lagi kenyataan berkata sebaliknya. Hal-hal tersebut belum cukup menarik minat saya untuk menghiasi blog tercintah ini.

Hingga pada suatu hari sesempok memberikan kabar kepada saya, kalau Blogger Muslimah akan mengadakan even One Day One Post selama bulan Agustus ini. Saya berpikir apakah sanggup menjalankannya? Pingiiin banget menuhin blog ini, meskipun saya tahu, blog ini hanya akan terisi postingan-postingan gazebo dari sang empunya (tanpa Gandring).

Permisah, tulung doakan saya.
Yaa Allah, mohon selamatkan hamba-Mu ini dari sifat malai.
Bismillah.
#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia


Sabtu, 24 Juni 2017

L for the Tears, part 6

Livia memasukkan kertas terakhir yang akan diprint. Sejak komputernya bermasalah, sekarang ia harus memasukkan kertas satu demi satu ketika mengeprint. Tidak bisa sekaligus seperti sebelumnya. Entah kapan print komputer di apotek ini akan diganti. 

Sebenarnya ia bisa numpang ngeprint di ruangan Apotekernya di lantai empat. Ia pun menyimpan kunci cadangan ruangan itu. Tapi Livia sedang malas naik-turun tangga. Rumah Sakit tempatnya bekerja memang menyediakan lift, tapi itu hanya boleh dipakai oleh pasien atau karyawan tertentu saja. 

“Sudah selesai, Mbak? tanya Gima yang melihat Livia sedang mematikan komputer. Livia mengangguk.

“Sekali-sekali pengen pulang siang nih.”
“Iya, Mbak. Jangan pergi pagi pulang malem, gaji tetap pas-pasan,” celetuk Nanda yang tiba-tiba muncul. Membuat mereka tertawa. 

Livia masih duduk di meja komputernya, meraih tas lalu mengeluarkan peralatan make upnya. Entah apa pantas disebut tas make up, karena kantong kecil itu hanya berisi sabun cuci muka, bedak dan lipstik dan lipgloss. Livia memandangi pantulan wajahnya dalam cermin bedak yang kecil. 

Sebenarnya ia hanya menganggap Arhan teman. Lelaki itu pun pasti begitu karena ia sudah memiliki seorang kekasih..., pikir Livia sambil mengusapkan bedak ke wajahnya. 

Tapi kenapa ia harus repot berbedak segala hanya untuk bertemu teman yang itu?

Gadis itu urung memakai lipstik. Ia membuka cepolan rambut, lalu mengikat rambut panjangnya menjadi ekor kuda. 
***

Arhan tersenyum melihat kemunculan gadis itu. Ia bersidekap menunggu Livia yang mendekat padanya. Selalu terpesona pada dandanan Livia yang sederhana, tapi terlihat luar biasa cantik di matanya. 

“Jadi kan ke pantainya?” tanya lelaki itu setelah Livia berada tepat di hadapannya. Gadis itu menaikkan alis.

“Sekarang?”

“Enggak, tahun depan.”

“Oh.” Mereka terdiam.

“Ya sekaranglah, Livia. Kan kemarin aku sudah bilang.” Arhan berkata gemas. Membuat gadis itu tertawa.

“Aku kira beneran. Kamu ngomongnya kayak yang serius gitu. Tapi aku enggak bawa baju ganti.”

“Gampang, beli di sana saja.” Lelaki itu menarik tangan Livia. 

“Cepetan dong jalannya, biar enggak kemalaman,” kata Arhan sambil menyeret gadis itu.

Dan lelaki dengan kaus abu-abu itu tetap menggenggam tangannya sepanjang perjalanan menuju parkiran.

Dua jam kemudian Arhan menghentikan mobilnya tidak jauh dari tepi pantai. Livia sengaja meninggalkan sepatunya di mobil. Berdua menyusuri pantai, berjalan ke arah batu-batu karang dengan bertelanjang kaki. Sesekali Livia mengaduh ketika menginjak karang yang tajam. Sesekali ia merunduk, memungut kulit kerang dan rumah keong.

Arhan menuntunnya naik ke atas sebuah batu karang besar. Lalu mereka duduk berdampingan. Livia protes ketika lelaki itu duduk terlalu dekat dengannya.

“Cuma bagian ini yang bisa didudukin. Semuanya tajam. Kamu mau pantat aku bolong-bolong pas kita balik ke Jakarta.” Arhan membela diri. Ia mengeluarkan ponsel, lalu membuat foto diri mereka.

“Narsis banget sih!” Gadis dengan rambut yang kini  tergerai itu tertawa melihat tingkahnya.

“Buat aku tunjukkan ke orang tua kita. Senyum, Livia.” Gadis itu menurut, tersenyum ke arah kamera.

“Bagus,” komentar Arhan ketika melihat hasil foto mereka.

“Yang ini jelek, masa aku cuma separuh.” Livia merebut ponsel, lalu menghapus foto-fotonya yang dirasa jelek.

“Ah, yang ini lucu nih. Kamu keliatan tembem banget. Disimpan… Disimpan…,” seru Livia riang.

"Yang ini bagus. Warna kulit kita kelihatan beda banget. Bisa buat iklan pemutih wajah niy." Livia tertawa senang. 

“Kirim ke hapeku, ya!” Arhan hanya mengangkat bahu. Lalu mengeluarkan sesuatu.

“Kamu merokok?” 

“Kenapa? Enggak suka?” Arhan menyelipkan rokok ke bibirnya.

“Enggak,” sahut Livia. “Aku enggak melarang kok. Tapi menjauh lima meter dari aku kalo lagi merokok, sana.”

“Kenapa?”

“Baunya menempel di badan dan rambut.”

“Masa sih?” Arhan pura-pura mendekatkan hidungnya ke rambut Livia, tapi gadis itu menusukkan sikunya. Membuat Arhan mengaduh lalu tertawa kecil.

"Lagian rokok kan enggak bagus untuk kesehatan, Han. Bisa bikin serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin.”

“Iya. Kalo kamu lagi…” Arhan berdehem.

"Maksudku, kalo istriku lagi hamil, ya, aku berhenti merokoklah, Liv.”

“Kenapa nunggu istri kamu hamil? Kenapa enggak sekarang saja?” 

Lelaki berambut sedikit gondrong itu mengalihkan pandangan. Ia mengeluarkan bungkusan rokok, lalu melemparkannya ke laut. 

“Puas sekarang?!” 

Livia tertawa kecil.

“Tapi kalo enggak merokok rasanya pahit lho, Liv. Kamu enggak pernah ngerasain sih.”

“Sedia permen yang banyak,” sahut Livia tak acuh sambil tetap melihat ke layar ponsel. Kini yang ia lihat bukan lagi foto-foto mereka tadi.

“Aku butuh yang lebih manis dari permen.” 

“Mana foto pacar kamu?” Livia tak mendengar kata-kata Arhan barusan.

“Kamu mau aku digantung sama orang tuaku kalau mereka tahu aku menyimpan foto gadis lain, bukan calon istriku.” Livia hanya bergumam tidak jelas, lalu mengembalikan ponsel itu.

“Cerita dong, Liv," pinta Arhan sambil menyimpan ponselnya.
“Cerita apa?”

“Apa saja. Tentang kerjaan kamu, misalnya.” Livia berpikir sebentar.

“Enggak ada yang seru tentang kerjaan aku. Masuk pagi, bikin pesanan barang apa yang harus diorder, sambil ngerumpi, ke gudang, lapor ke Apotekernya kalau ada sesuatu. Kadang-kadang diajak ikut rapat, kena omelan dokter. Sesekali menghadapi pasien bermasalah, makan siang, pulang. Selesai.” Livia berkata sambil mengeluarkan kulit kerang dan rumah-rumah keong yang tadi dipungutnya. Yang jelek, langsung ia buang di antara batu karang.

“Banyak banget sih kerjaan kamu.” 

“Kalo dijalanin enggak sebanyak itu kok.”

“Dasar gila kerja,” celetuk Arhan sambil menopangkan kepala dan memandang gadis di sebelahnya, dengan mata kecilnya yang bersinar hangat. 

“Aku? Gila kerja? Masa sih?” Livia tertawa.

“Heran, kok orang-orang pada bilang seperti itu, ya? Perasaan kerjaan aku biasa saja. Memang sih, kadang kalo sudah kerja suka males buat berhenti, soalnya kalau enggak dituntasin bisa numpuk. Tapi kayaknya itu bukan gambaran seorang yang…” Livia tertegun ketika menyadari Arhan semakin mendekatkan wajahnya.

“Gila…” Suaranya makin melemah ketika Arhan memiringkan wajah, lalu mendekatkan bibirnya. 

“Kerja…” Livia tidak yakin ia menyelesaikan kalimatnya karena Arhan sudah keburu mengecup bibirnya lalu memagutnya dengan lembut. Kerang-kerang dan rumah keong terlolos dari tangan.

***
Gadis itu membuka mata dengan berat ketika merasakan tepukan pada bahunya. 

“Sudah sampai,” bisik Arhan pelan.

Livia mengerjapkan mata. Menoleh pada rumah berpagar cokelat di sebelah mobil yang ia tumpangi. 

“Aku tidur sepanjang jalan, ya?” tanyanya sambil menggeliat.

“Iya, kamu tidur pulas banget. Dengkurannya sampai kedengaran.” Sepasang mata kelam menyipit di tengah geliatnya. Arhan hanya terkekeh.

Livia baru menyadari sesuatu yang digunakan untuk menyelimuti tubuhnya. Jaket merah yang dipakai lelaki itu di kencan pertama mereka. Mungkin Arhan menyelimutinya ketika ia terlelap di jalan tadi. 

Livia membuka sabuk pengaman. Ia menahan ketika Arhan membuka seatbelt juga. 

“Enggak usah turun. Kamu langsung pulang saja. Sudah kemalaman. Mama juga sepertinya sudah tidur.” Livia memperhatikan lampu kamar ibunya di lantai dua yang sudah gelap. 

“Oke,” jawab Arhan singkat Perlahan ia memajukan tubuhnya dan mengecup bibir itu lagi, persis seperti siang tadi.

“Makasih ya, untuk hari ini. Yang tadi lebih dari permen,” bisik Arhan parau di depan bibir Livia. Membuatnya menahan napas tanpa sadar. 
***

Kamis, 11 Mei 2017

L for the Tears, part 5

Livia mengangkat kepalanya dari novel yang sedang dibaca, menajamkan pendengaran. Suara mobil itu mulai akrab belakangan ini. Ia Bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela. Sebuah sedan hitam sudah parkir di depan rumah. Gadis yang masih mengenakan kaos kebesaran berwarna biru pudar itu mendengus sebal. 

“Masih pagi sudah datang ke rumah orang,” gerutu gadis itu sambil memperhatikan Arhan keluar dari mobilnya. Rambut yang diikat seadanya bergoyang tertiup angin. Ia cepat-cepat bersembunyi ketika Arhan menoleh ke arahnya. Livia kembali mengintip, lelaki itu sudah tidak ada.  Ia tersenyum. Mengangkat sebelah alis, pertanda mendapatkan sebuah ide cemerlang. Gadis itu meraih bantal kecil juga novel yang tadi sedang dibaca. Merayap ke bawah tempat tidur, dan berbaring di sana. Ia tertawa geli memandang bagian bawah tempat tidur. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara langkah kaki.

“Neng Viiiaaa…” Terdengar derit pintu yang perlahan dibuka. Sepasang kaki melangkah masuk ke dalam. 

“Kemana ya, tu orang?” Livia terkikik tanpa suara memperhatikan sepasang kaki yang bolak-balik mengitari kamarnya. Dari bawah tempat tidur ia bisa melihat tumit Yanih yang pecah-pecah. Tempo hari ia pernah memberikan krim racikan untuk mengobati tumit itu. Tapi sepertinya belum pernah dipakai. 

Frustasi, tumit pecah-pecah itu akhirnya melangkah pergi. Livia mendesah lega, lalu melanjutkan bacaannya yang tertunda. Masih di bawah tempat tidur. Sampai keadaan dirasa aman, barulah Livia keluar dari tempat persembunyian. Merangsek naik ke atas tempat tidur.

Selang beberapa lama kemudian Yanih mendatanginya lagi. Berseru nyaring memanggil sang majikan. 

“Oalah ke mana tho ya Neng Via tadi? Yanih cari dari tadi.” 

“Ya di sini sajalah, Mbak," sahut Livia yang sedang membaca sambil tiduran dengan santai. Sepasang mata besar semakin membuntang tak percaya.

“Enggak mungkin. Orang tadi Yanih sudah cari di kamar, Neng Via-nya enggak ada.”

“Nyarinya enggak teliti kali," goda Livia. Perempuan bertubuh kurus-pendek dan berkulit bersih itu duduk di pinggir tempat tidur. 

“Mas Arhan kayaknya rada kesel lho, Neng.” Livia hanya menaikkan alisnya. Masa bodo. Yanih mengawasi putri bungsu majikannya dengan saksama.

“Ada yang aneh di muka aku?” tanya Livia tanpa mengalihkan matanya dari novel yang sedang dibaca.

“Neng Via ndak suka ya sama Mas Arhan?” Livia mengeryitkan alis sambil mengulum senyum.

“Kenapa memang?” 

“Yaa, Yanih kok ngeliatnya Neng Via ini kayak yang ndak ikhlas gitu dijodohkan dengan Mas Arhan. Padahal Mas Arhan itu ganteng lho, Neng. Baik lagi.” 

Livia berbalik membelakangi pembantunya, sambil tetap melanjutkan bacaannya. Yanih gemas melihat tingkah sang majikan.

Sementara Arhan yang sedang dalam perjalanan pulang pun terlihat mangkel. Ia tahu Livia bersembunyi darinya. Ia tahu gadis itu tidak menyukainya. Ia dapat melihat dari sikap Livia. Awalnya dicoba untuk bersabar, tapi lama-lama makan hati juga. Kalau begini terus tidak akan ada perkembangan yang berarti. Ia harus bertindak!
***

“Halo.” Livia mengangkat teleponnya dengan malas sementara Ibu Endang, atasannya di apotek, terus melirik penuh rasa ingin tahu. 

“Iya. Kenapa, Han?” tanyanya dengan jemu. 

“Aku ada di kafe Rumah Sakit.” 

Livia memutar bola mata, “Kayaknya aku masih lama deh, Han. Ada laporan...”

“Ada yang mau aku bicarakan, Liv.”Arhan memotong.

“Enggak bisa nanti saja ya, Han? Aku lagi sibuk banget nih. Komputer aku dari tadi trouble.”

“Ya sudah. Aku tunggu sampai kamu pulang.”

“Tapi aku kayaknya lembur.”

“Aku tunggu.” Lelaki di seberang tetap ngotot. 

Livia mencebik sebal.“Ya sudah. Tunggu aku lima belas menit lagi, ya!”

Arhan tersenyum, menaruh ponsel di meja lalu menghirup cappucinonya.

Tidak sampai lima belas menit gadis berseragam hijau itu sudah tiba di hadapannya. Ia tersenyum sambil melambaikan tangan pada penjaga cafe yang menyapanya. Tapi begitu melihat Arhan, ia menyimpan senyumnya kembali.  

“Mau ngomong apa sih? Jangan lama-lama. Kerjaanku numpuk banget.” Livia bicara dengan wajah muram. Komputernya memang sedang bermasalah sejak pagi. 

"Kamu enggak suka ketemu sama aku, Liv?” Livia berdecak. 

"Aku enggak suka pekerjaanku terbengkalai hanya untuk masalah pribadi."

Arhan menatap gadis di hadapannya. Membuat Livia jengah. Tidak berani membalas. Lelaki itu menyandarkan punggung lalu melipat kedua tangannya. “Kamu kira aku suka dengan perjodohan ini?” 

Hening.

“Aku juga enggak setuju dengan perjodohan ini, Liv. Aku punya seseorang yang aku cinta. Aku juga sedang memikirkan  cara untuk keluar dari perjodohan ini, tapi aku tuh enggak banyak tingkah kayak kamu.” Livia mengeryitkan alisnya. 

“Maksud kamu apa?” Ia semakin tidak nyaman di kursinya. Apalagi melihat senyum melecehkan lelaki itu.

“Sudahlah. Aku tahu kamu enggak suka aku. Asal kamu tahu, rasa enggak suka kamu itu sama seperti rasa enggak suka aku terhadap perjodohan ini.” 

Livia terdiam kikuk. 

“Aku cuma enggak mau bikin kecewa orang tua, sambil memikirkan bagaimana caranya untuk lolos dari perjodohan ini.” 

Dahi Livia terlipat. Ia mengamati raut wajah Arhan. Menilai apakah mata kecil memanjang itu tengah bercanda. Tapi raut wajah tegas di hadapannya terlihat begitu serius. Rahangnya yang keras mengatup rapat.

“Kamu serius?” tanyanya perlahan. “Kenapa enggak cerita dari awal?” Livia melunak. Ia mulai merasa mendapat teman senasib, meskipun sedikit sebal, ternyata ada lelaki yang tidak suka dijodohkan dengan dirinya.

“Aku berusaha terlihat antusias dengan perjodohan kita. Meskipun aku enggak setuju, tapi aku enggak mau mengecewakan orang tua. Kalau kamu pun enggak menyukai perjodohan ini, maka aku enggak akan sungkan-sungkan lagi.”

Puas kamu sekarang?! Puassss?! batin Arhan gemas.

“Lalu apa rencana kamu?”

"Sekarang kita ikutin saja apa maunya para orang tua. Nanti kalau sudah ketemu jalan keluarnya, kita pikirkan rencana selanjutnya. Aku bisa stres memikirkan perjodohan ini sekaligus rencana untuk menghindarinya.”

Livia menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu menghela napas lega.

Sejak saat itu sikap Livia pada Arhan berubah. Mungkin karena ia merasa mendapat teman persekongkolan. Livia jadi lebih hangat dan terbuka. Ia mulai sering mengangkat telepon ataupun membalas pesan lelaki itu. Berbicara dengan Arhan di telepon sampai berjam-jam, jalan-jalan setelah pulang kerja. Bahkan mereka lebih banyak bercanda dan tertawa sekarang.
***

Arhan mengusap lengannya yang habis dicubit. Terasa sedikit perih. Pasti nanti akan ada bekas cakaran di tempat yang perih tadi. 

“Kupikir kamu itu perempuan pendiam dan lembut.”

"Salah sangka, ya? Kan aku sudah bilang, kesan pertama enggak selalu benar.” Livia tertawa geli.

“Habis tadinya aku kira kamu bener-bener kepengen dijodohin sama aku. Ternyata aku punya teman senasib.” Arhan tertawa. Melempar pandang pada toko es krim yang mereka kunjungi. Ketika menjemput Livia tadi, tiba-tiba saja gadis itu mengatakan ingin makan es krim. Dan Arhan segera melajukan mobilnya ke toko es krim ini.

Kedai es krim itu berada di tengah-tengah kota. Livia sering mendengar nama tempat itu, tapi ia belum pernah mengunjunginya. 

Mereka duduk di meja paling ujung, di lantai dua kedai es krim tersebut. Di sebelah jendela besar yang menghadap ke jalan raya. Livia memandang bingung daftar menu es krim di tangannya. Matanya melirik pada foto-foto es krim yang terpajang di dinding lalu menyebutkan es krim yang ia inginkan dengan lidah kaku. Entah bahasa planet apa yang digunakan untuk membuat nama-nama es krim itu. 

Sementara lelaki yang duduk di hadapannya hanya memesan capppucino hangat dan seporsi kentang goreng.  

“Oh ya, cerita tentang pacar kamu dong, Han,” pinta Livia setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi. 

“Dia masih kuliah atau sudah kerja?”

“Kerja,” jawab Arhan singkat.

“Di mana?” 

Ia menyebutkan sebuah maskapai penerbangan.

“Kalian ketemu di mana?”

“Waktu aku ke Makassar, dia salah satu pramugarinya.”

“Oh,” sahut Livia sambil mulutnya mengerucut, membentuk huruf O.  

“Gimana reaksinya waktu dengar kamu mau dijodohkan?” Arhan mengernyitkan alis. Sepasang mata sipit memanjang terlihat sebal. Membuat gadis itu merasakan sesuatu. 

“Kamu nih udah kayak interview pekerjaan deh.” 

Livia tertawa.

“Masa sih?”

“Kamu sendiri bagaimana? Kata Tante Sita kamu single, tapi kenapa menolak dijodohkan dengan lelaki sekeren aku?” 

Livia mencibir.

“Ini kan sudah zaman modern gitu lho, Han. Media komunikasi-informasi sudah canggih. Banyak pasangan yang bisa ketemu di jejaring sosial. Masa masih perlu dijodohkan.”

"Memang salah kalau dijodohkan orang tua?”

“Ya, enggak juga sih.” Livia menjawab tidak enak. Salah tingkah sendiri ketika lelaki itu menatapnya tanpa kata. Akhirnya Arhan menaikkan alis lalu mengalihkan matanya pada cappucino yang baru datang. 

“Mungkin orang tua belum tentu tahu apa yang kita inginkan. Mungkin juga pilihan orang tua belum tentu benar, tapi mereka pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.” Gadis yang masih mengenakan seragam kerja itu hanya diam.

“Aku enggak mau dijodohkan. Aku ingin menemukannya sendiri,” lirihnya melindap. Menekuri alas meja.  

“Ada orang yang kamu sukai?” tanya Arhan setelah jeda beberapa saat. “Kamu pernah jatuh cinta enggak? Naksir seseorang?” 

Livia mengangkat wajah, memandangnya aneh. 

“Ya pernahlah.”

“Kapan?” 

“Dulu, waktu aku kuliah.” Ingatan Livia melayang pada seorang lelaki yang sering tersenyum, memamerkan deretan gigi kecil berbaris rapi. 

“Lalu?” 

Livia mengenyahkan bayangan itu. “Apanya yang lalu?”

“Kenapa putus?” 

Livia tercenung lagi. Lalu cepat-cepat tersadar. “Kamu ini kayak interview pekerjaan saja deh,” balas Livia sekalian meledek. Membuat lelaki di hadapannya terkekeh. 

Untunglah pesanan mereka datang. Mata Livia berbinar memandang es krim pesanannya. Tiga scopp besar es krim rasa vanilla, green tea dan rasberry dalam mangkok persegi. Tiga varian es krim itu hampir tertutupi oleh aneka macam topping yang menyesaki wadah es krim tersebut. Marsmallow, gummi jelly, potongan stroberi, oreo, waffle juga manisan kulit jeruk citrus aneka warna. Belum lagi saos cokelat yang melumeri topping-topping, Juga butterfinger. Livia menyendok es krimnya. Merasakan sensasi dingin es krim di lidah. Menekuri rasanya.   

Topping yang terlalu banyak itu justru membuat rasa es krimnya menjadi bias. Mungkin lain kali ia harus mencoba es krim lainnya. Tentu saja yang minim topping. 

“Eh, kapan-kapan kita ke pantai yu,” usul Arhan tiba-tiba.

“Ngapain?”

“Ya, lihat lautlah, Livia. Memang apalagi yang bisa kita lakukan di pantai?” Livia bertopang dagu sambil memainkan lelehan es krim. 

“Kapan?”
***




Senin, 08 Mei 2017

L for the Tears, part 4

“Me-nye-bal-kan.” Livia mengeja kata-kata itu sambil mengintip dari balik tembok apotek dengan ekspresi jijik. Ia duduk kembali di depan komputer dengan gusar.

Padahal dari tadi sengaja tidak diangkatnya telepon dari Arhan, ternyata dia malah muncul di sini. Padahal Livia sedang banyak kerjaan, tapi mana bisa dia konsen bekerja kalau sedikit-sedikit Gima berteriak padanya, mengomentari ‘pacarnya’ yang sedang duduk manis di depan Apotek itu.

Livia mencoba tak mengacuhkan lalu melanjutkan pekerjaan. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Sesekali bandul perak berbentuk jangkar kapal di pergelangan tangan beradu dengan keyboard komputer. 

Laporan sudah selesai. Livia menyimpan file di komputer, juga flash disk miliknya. Terakhir ia memasukkan kertas ke dalam mesin print. Gadis itu melamun sambil menunggu berkasnya tercetak semua.   Tiba-tiba ia mengangkat wajah, menyadari, mengapa ruangan mendadak begitu sunyi.

Gadis itu menggeser kursinya yang beroda, mengintip sedikit ke konter Apotek, lalu menepuk jidat.

Astaga! Ngapain mereka berkumpul sambil mengintip dari bawah meja konter begitu? Livia menghampiri mereka, melipat tangan sambil berdehem. Alif, Gima, Nanda, dan Manda. Semua menoleh ke arahnya lalu langsung membubarkan diri. Pura-pura sibuk bekerja. Manda pun segera kembali ke ruangannya di UGD. Sepertinya perawat muda itu lupa tujuannya datang ke apotek.  

Livia berdecak melihat kelakuan teman-temannya. Ia menghela napas. Sepertinya ia memang harus pulang sebelum Rumah Sakit ini semakin heboh.

Jam setengah empat sore.

Dan mata sipit lelaki di depan Apotek itu seakan tersenyum ketika melihatnya. 

Sepertinya memang harus pulang, gumam Livia dalam hati. Ia kembali ke depan komputer. Memeriksa hasil pekerjaannya. Memasukkan berkas yang tadi sudah ia print ke dalam sebuah map. Besok ia hanya tinggal meminta tanda tangan Apoteker mereka, lalu menyerahkan kepada Manajer Medis Rumah Sakit.  Pikirnya sambil merapikan meja lalu mematikan komputer.

Livia bekerja di sebuah Rumah Sakit Swasta besar di kotanya. Rumah Sakit itu terkenal akan keramahan para karyawannya. Sudah memiliki beberapa cabang di kota lain.

Awal mula bekerja di sana Livia sempat merasa tidak betah. Tuntutan loyalitas lah penyebabnya. Pergi pagi buta, lalu pulang bersamaan dengan matahari terbenam. Begitu setiap hari. Tapi lama kelamaan ia mulai menikmatinya.  

Apalagi ia bekerja tepat ketika Rumah Sakit ini baru dibuka. Ia merasa ada keterikatan kuat antara dirinya dan tempat itu.

Pernah ia sampai menginap di dalam apotek hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Apotek mereka memang cukup nyaman. Pintu masuk apotek berada di samping kasir rawat jalan. Di dalam apotek, di seberang pintu masuk terdapat deretan loker yang disusun agak menjauh dari tembok, sehingga membentuk sebuah ruangan kecil untuk berganti pakaian. 
Sementara di sebelah pintu masuk berdiri sebuah lemari kokoh tempat menyimpan berdus-dus botol infus.

Sebuah tembok membatasi ruangan berisi loker dan kardus-kardus infus dengan ruangan apotek yang sebenarnya. Tembok di ruangan dalam itu tertutup oleh lemari-lemari besar berisi obat dan alat kesehatan. Di satu sisi, terdapat sebuah jendela kaca lebar yang menampilkan pemandangan ke area parkir. 

Di dekat lorong masuk terdapat tempat cuci piring. Ada dua tempat sabun cuci piring di sana. Yang berwarna pink untuk mencuci peralatan meracik, sementara yang warna biru digunakan untuk mencuci bekas peralatan makan. 

Di sebelah tempat cuci piring terdapat meja panjang yang digunakan untuk meracik. Di atasnya berisi lumpang, blender obat, kertas perkamen, tablet-tablet dalam wadah dan kemasannya, aneka kapsul berbagai ukuran dan warna. Juga sebuah mesin press perkamen otomatis dan kertasnya. Semua tertata begitu rapi. Tapi tunggu saja jika resep dari dokter anak sudah masuk...

Sementara di sebelah kanan terdapat meja komputer juga lemari tempat menyimpan arsip. Di ujung ruangan terdapat sebuah kamar mandi kecil.  

Livia membuka laci meja komputer dan mengeluarkan sebuah kunci. Membuka loker, lalu mengeluarkan tasnya. Mencangklongnya di pundak. Kemudian pamit pada teman-temannya.  

Arhan langsung bangkit begitu Livia keluar dari Apotek. Gadis itu tersenyum menahan kesal. Senyum yang biasa ia berikan pada pasien yang kelewat cerewet dan menyusahkan. Lewat ekor mata ia bisa melihat Gima yang mengikuti tiap geraknya dari balik komputer di konter depan apotik. Ia juga bisa menebak Nanda yang sedang mengintip dari lubang tempat keluar masuk resep. Habis ini mereka pasti akan merumpi dahsyat.  

“Lain kali jangan menunggu di depan Apotek,” kata Livia pada Arhan yang berjalan di sebelahnya.

“Kenapa?”

“Enggak enak sama orang. Itu kan tempat untuk pasien.” Livia tersenyum. Menahan gondok di hati.

“Tadi aku hubungin kamu, mau tanya kita bisa ketemuan di mana. Tapi kamu enggak jawab telepon aku," sahut Arhan tanpa rasa bersalah.

“Oh ya? Enggak dengar. Lagian tadi kehabisan pulsa.” Livia mengarang jawaban sambil tertawa kecil. Pintar sekali ia bersandiwara. 

Mereka tidak berbicara lagi sampai di parkiran.
Arhan membukakan pintu mobilnya untuk Livia. Memutari mobil lalu duduk di belakang setir. Memakai seat belt, juga kacamata hitamnya sebelum menyalakan mobil.

Cih, banyak gaya. Livia membuang muka agar lelaki itu tidak melihat ejekan yang menari-nari di bibirnya. Sementara Arhan, sampai detik ini pun ia masih terpesona pada ciptaan Tuhan yang satu ini. Mata bulat indah warna kelam yang dinaungi bulu mata lebat, dan dagu berbentuk sempurna, rambut sedikit ikal sepunggung, hampir mencapai pinggang, yang diikat seadanya… bahkan siluet samping gadis itu nampak begitu cantik.  

Arhan lebih suka dandanan yang seperti ini ketimbang dandanan Livia tempo hari—dengan jepit rambut ungu selebar talenan. 

“Kita makan dulu, yuk.” Arhan buka suara untuk mengenyahkan ingatan itu. Ia selalu tersenyum lebar setiap mengingat kencan pertama mereka.

“Tapi aku sudah makan tadi.” Terdengar keluhan kecewa. 

“Padahal aku sengaja jemput kamu buat makan siang bareng.”

Makan siang di jam empat sore? Ha ha ha. Livia mencibir lagi. Tapi ia terdorong ke depan ketika Arhan menghentikan mobil dengan tiba-tiba. Lelaki berkemeja garis kelabu itu membuka kacamata, lalu menaruhnya ke dasbor.

“Kecelakaan,” desisnya.

"Tunggu sebentar, ya.” Arhan keluar dari mobil diiringi tatapan sebal Livia. Ia langsung membuang pandangan ke arah samping sambil memerosotkan tubuhnya lebih dalam ke jok mobil. Enggan melihat kejadian itu.

“Kenapa sih kalau bareng dia mesti ketemu hal yang aneh-aneh," guman Livia sebal. Ia menoleh dengan malas-malasan, tapi matanya langsung membesar seketika. Tubuhnya mendadak tegak tegang melihat Arhan dan beberapa orang menggotong korban kecelakaan yang berdarah-darah itu menuju ke arahnya. Ia menutup mulutnya menahan mual. Isi perutnya sudah hampir keluar ketika Arhan membuka pintu mobil lalu meletakkan orang itu di jok belakang. Bergegas Arhan duduk di balik setirnya lagi. Kali ini ia lupa memakai seat belt. 

“Kayaknya kita balik ke Rumah Sakit lagi.” Lelaki agak gondrong itu duduk di sebelahnya lalu memutar mobil dengan cepat. 

Livia menutup mulutnya sepanjang perjalanan. Berkeringat dingin ketika melirik kemeja Arhan yang berbercak merah. Teringat lagi darah yang bercucuran seperti keran air yang terbuka beberapa tahun silam. Usus yang terburai, keluar dari perut ayahnya…

Begitu mobil berhenti, Livia bergegas keluar dan berlari ke Apotek yang berada di seberang UGD. Ia langsung ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya.

Arhan menyadari keanehan Livia, tapi ia sedang sibuk mengurus korban kecelakaan itu, bersama seorang pejalan kaki yang ikut menolong. 

Tahu-tahu Livia sudah berdiri di sampingnya, menyodorkan sebungkus burger. Di apotek tadi, kebetulan teman-temannya yang dinas sore sedang memesan makanan. Dan Livia teringat pada lelaki itu. Jadilah dipesannya sebungkus burger. 

“Thanks,” kata Arhan  setelah melihat isinya. Livia berdiri di sebelah Arhan. Ikut bersandar pada dinding UGD sambil memasukkan tangannya ke dalam saku.  

“Gimana keadaannya?”

“Kepalanya luka parah. Pendarahannya banyak banget, sampai kena jok mobilku...”

“Hoeks.” Livia menutup mulutnya, menahan  suara  yang  keluar  dari  tenggorokan  lagi  sambil tertawa.

“Sori, aku agak mual kalo denger begituan." Berdehem untuk membersihkan pita suara. 

"Oh ya, keluarganya gimana?”

“Dalam perjalanan. enggak apa-apa kan kalau kita pulang setelah keluarganya datang?” 

“Enggak apa-apa. Aku bisa sambil lanjutin kerjaanku.” Livia menegakkan tubuh lalu berbalik. 

“Oke,” sahut Arhan pada Livia yang telah berjalan meninggalkannya. Lelaki itu memperhatikan punggung yang menjauh. Entah apa yang ada di pikirannya tentang perempuan dalam balutan seragam hijau itu. 

Arhan menahan napas ketika perempuan itu menghentikan langkahnya lalu berbalik lagi. Ia pura-pura membuka bungkusan burgernya. Ketika gadis itu bicara Arhan sudah siap melahap burgernya. “Sebaiknya aku pulang sendiri saja.” Mulut lelaki itu menganga.  

“Aku… enggak tahan mencium bau darah.” Arhan lupa memasukkan cheeseburger ke dalam mulut. 
***